bukan menghumbar derita, sebagaimana yang selalu dikatakan mereka tentang saya.
bukan meminta pembelaan juga
saya menulis sebagai terapi, sebagaimana yang dianjurkan terapis psikologi saya di 2007, “Write your heart, pour them out…”
dan ternyata teman-teman yang membaca, mengikuti perkembangan ‘perjalanan’ saya seputar kasus perceraian ini, beberapa berkomentar (secara live juga ditulis di blogs ini dan di imel saya) kalau tulisan-tulisan saya ini bisa ‘menghibur’ mereka: “ternyata masalah gw ga seberapa ya ’sa” dan memberikan pelajaran buat mereka “gw makin tau sekarang gimana harus berkomitmen, sa…” atau masukan untuk mengambil keputusan: “iya sa, gw emang bukan di posisi memilih sekarang…gw ga boleh cepet2 ngambil keputusan untuk cerai…”
sama-sama, friends, terima kasih juga…
curhat tentang kasus ini benar-benar bukan hal yang mudah buat saya. bukan sekedar saya harus menutup-nutupi identitas tokoh-tokoh yang saya tuliskan, bahkan identitas pribadi saya (yang sebenarnya banyak bocor sana-sini =P); tetapi karena saya berkali-kali harus mengingatkan para komentator: “ini cerita sepihak dari saya ya, bias banget loh…”
silakan meneruskan membaca,
terima kasih