kalah
November 6, 2007
sudah pernah saya ceritakan tentang perempuan itu? dan perempuan-perempuan yang bersamanya sebelum saya?
pagi ini saya melihat persamaan di antara mereka yang begitu nyata, banyak, dan… mulai dari mana? dari ujung rambut ke ujung kaki?
ya, secara fisik mereka berdua sama-sama mempunyai tubuh yang proporsional, rambut yang tergerai panjang, pakaian yang modis-modis dan sexy, pesta-pesta yang heboh… mereka adalah cerminan perempuan.. maksudnya, wanita-wanita masa kini yang westernized a.k.a modern, cantik-cantik, seru, heboh, dan menarik perhatian banyak laki-laki. di foto-foto mereka, berbagai gaya mereka beraksi, dan sangat percaya diri seakan mereka sadar betul betapa menariknya penampilan fisik mereka.
dan… salah besar kalau menganggap mereka tidak berotak. keliru, mereka adalah orang-orang cerdas yang berprestasi di bidang akademik.
ya, tipe orang yang membuat saya berfikir “kepada sebagian orang, Tuhan memberikan segalanya” .. =Psaya yang tidak pernah peduli pada bentuk tubuh dan rambut saya, dan hampir tidak pernah benar-benar merasa cantik ataupun tidak cantik… tiba-tiba merasa menemukan salah satu jawaban yang tepat dan rasional yang mendukung penuh semua kehancuran rumah tangga kami.
kemudian saya juga membuka-buka file foto2 saya, yang … haha, jauh banget sama mereka.
saya yang sebelumnya merasa nyaman dan tidak ada masalah dengan tubuh dan isi kepala saya, tiba-tiba merasa benci melihat pantulan wajah dan tubuh saya di cermin.
setelah merasa sedih karena terlalu jauh dan sangat sangat jauh dari mereka (dan tidak mau seperti mereka juga), saya beralih kepada amarah kepada mantan suami.
“kalau sudah tau seleranya seperti itu, kenapa pacaran sama saya tiga tahun dan menikahi saya sih?!”
itu bukan pertanyaan kok, jadi tidak usah kamu jawab ya, nyet
mantan suami saya adalah seseorang yang sangat memperhatikan desain.
barang-barangnya selalu kelas satu. handphonenya adalah Nokia Siroco yang casingnya dari titanium dan fungsinya tidak terlalu baik dibandingkan harganya yang – buat saya – berlebihan.
tapi dia bilang itu sebagai bentuk penghargaan terharap disain.
harga sepedanya bisa mencapai puluhan juta. dengan segala kerja keras dan pengorbanan, dia membangun sepedanya sangat bagus dan mewah sekali.
tidak jarang barang-barangnya dia gadai dan jual demi membangun sepeda ‘raja’nya.
dahulu saya hanya kagum pada kegigihannya. suami saya bukan orang berlimpah harta, saya tahu persis keteguhan dan kesabaran dia memperoleh barang-barang mewah itu.
tetapi saya harusnya sadar, apa yang dia mau adalah selalu bentuk, desain, dan produk-produk numero uno. dan sebagai manusia, saya jelas-jelas tidak didisain cukup elegan seperti siroco untuk handphone atau mercedes untuk mobil.
saya terlalu pendek untuk ukuran manusia termasuk manusia asia, saya tidak suka rambut panjang2 apalagi kuku, karena dari kecil olahraga jadi tidak biasa memanjangkan kuku. saya gemuk, dan kulit saya tidak terlalu mulus. bahkan belang-belang terbakar matahari.
dan bodohnya, saya pikir dia mencintai saya sehingga saya luput dari kesadaran bahwa dia selalu mau disain yang terbaik.
saya ingat, dulu dia cerita bahwa VW antiknya dia jual, setelah mengalami tabrakan. sebenarnya VW itu sudah diperbaiki dan mulus, tapi dia bilang: “saya tau tidak 100% mulus kembali, hanya 99% dan saya tidak mau bertoleransi.”
Ouggghhh…kenapa saya berfikir saya pantas dengannya? kenapa saya tidak pernah berfikir bahwa begitu ada desain yang lebih baik, pasti saya disingkirkannya?!!
selain itu, saya bukanlah perempuan yang populer karena kecantikannya ataupun kesupelannya.
saya bukan social person yang selalu dielu-elukan kehadirannya di pesta-pesta. saya tidak suka pesta. saya bukan party animal yang bisa membuat suasana pesta lebih heboh. saya adalah orang yang rata-rata saja, dan tidak pernah mengeluh karenanya, sampai ketika saya sadar, bahwa mantan suami saya itu mengingatkan betapa banyak kekurangan diri saya dalam hal fisik. betapa saya mengalami kekalahan yang jauuh dan sangat memalukan.
ya, saya memang kalah. dan kalau ukurannya melulu fisik, saya memang tidak berminat untuk perang dan menang. percayalah, sekarang, saya hanya ingin mencintai dan nyaman dengan diri saya sendiri.
alterated the top priority of life
November 6, 2007
Sahabat saya Adri pernah berkata, “Sa, kalau kamu melakukan pengorbanan, jangan dihitung-hitung, sayang kan pahalanya…”
Memang benar, menghitung-hitung ibadah hanya akan menjadikan manusia sombong, bahkan pada dirinya sendiri. Tetapi kalau kali ini saya mengingat-ingat apa yang telah saya lakukan, itu bukannya untuk perhitungan ataupun menghumbar-humbar pengorbanan yang sudah saya lakukan untuk kasus yang ‘consumed’ ini; melainkan saya mendeklarasikan perubahan pada diri saya sendiri. Perubahan pada prioritas hidup saya, pada visi masa depan saya.
Bejo, seorang sahabat saya yang lain (Alhamdulillah betapa kayanya saya akan sahabat-sahabat yang selalu menyayangi saya) meneriakkan satu peringatan keras bahwa sudah saatnya saya menghentikan segala tindakan atas nama ‘pengorbanan’ demi urusan yang menurutnya akan menyebabkan saya mengalami depresi akut itu (baca: sidang perceraian). Seperti alarm, saya cukup dikejutkan dengan komentar cadasnya, yang seharusnya saya sudah hafal bahwa ia memang seperti itu kalau berkomentar, tanpa bungkus yang cantik, iringan musik merdu, ataupun gula-gula yang manis. Maka saya berdiskusi cukup panjang dengan Bejo tentang pengorbanan dan prioritas hidup. Setelah saya resapi kembali hantaman-hantamanya yang bikin saya merasa lebih ‘unbreakable’ itu, akhirnya siang tadi saya beranikan diri untuk menunjukkan perubahan tentang skala prioritas hidup saya pada satu orang yang tidak boleh disebut namanya (dan tidak boleh di sms itu hehehe).
“Silence only confirmed that history repeated itself,” begitu yang pernah saya baca di satu buku. Saya sudah membuang satu semester saya, sudah meletakkan jabatan saya sebagai felo dan kembali berada di Jakarta, sudah pernah menepikan keluarga dan kawan-kawan saya yang akhirnya harta tersebut pelan-pelan saya miliki kembali, dan… kali ini saya harus melepaskan kesempatan saya yang belum tentu bisa datang lagi semudah ini?
Timing is everything! Dan kalau saya biarkan kesempatan ini berlalu sia-sia, akankah saya menyesal karena meninggalkannya hanya untuk perkara yang membuat saya muak setengah mati? Sudah saatnya saya menempatkan kebaikan untuk diri saya sendiri sebagai prioritas nomor satu. Saya mendapat kesempatan untuk presetasi di sebuah konfrensi pendidikan internasional yang diselenggarakan oleh UKM, kampus saya. Dan saya sangat membutuhkan konfrensi ini untuk membuat diri saya kembali ‘feeling good about myself’, suatu perasaan yang sudah lama absen. Dan sudah saatnya pula ia tahu bahwa kini saya telah berubah menjadi sangat ‘keakuan’, suatu sikap yang susah untuk saya lakukan di satu tahun terakhir ini. Akhirnya untuk tidak melakukan kebodohan yang sama, saya beranikan diri untuk bersuara dan memintanya memberikan saya sedikit waktu dan ruang untuk mengikuti konfrensi tersebut.
Dan semoga memang seikhlas kedengarannya, ia akhirnya tidak keberatan perkara heboh itu ditunda untuk beberapa minggu. Saya telah bersuara, menyatakan keinginan dan kepentingan saya, agar tidak ada kesalahan yang terulang lagi, yang melahirkan penyesalan bagi diri saya sendiri.
Bejo betul, demi membangun diri saya seutuhnya, sebaiknya saya tidak menginjakkan kaki di Jakarta sebelum konfrensi tersebut. Sebab kegiatan yang akan saya lakukan di Jakarta akan membuat saya mengalami degradasi ‘self-esteem’. Iyalah, terlalu mudah untuk diduga bahwa siding perceraian tentu akan bikin saya sangat … entah bagaimana, sehingga saya juga ngga ngerti musti bagaimana persiapkan mental ini. Ada yang bisa bantu??
Dan kondisi emosi yang misterius itu akan mempengaruhi kinerja otak saya, pastinya. Maka berada di sini selama satu bulan lagi, saya ingin mendalami paper saya tentang pendidikan alternatif untuk remaja miskin, sekaligus siapkan bahan presentasinya, contoh modul problem-based learning, sekalian mau fotokopi buku-buku perpustakaan buat koleksi saya (hihi, koleksi kok bajakan sih Cil…)
Terima kasih bejo atau suntikan ‘BANZAII!!’nya
Dan terima kasih juga kepada “yang tidak boleh disebut namanya dan di-sms” atas pengertian dan dukungan moralnya kepada kemajuan saya, yang saya yakin sebenarnya tidak surut.
arsip ’surat cinta’ 1 agustus 2007
October 26, 2007
berikut ini adalah surat yang saya kirimkan ke ’suami’ saya (yang masih tidak jelas antara talak atau tidak, waktu itu)
sebenarnya, saya kurang suka pada curhat ini, karena saya nampak lelah, menyerah, dan membiarkannya pergi begitu saja…
“semalam aku bermimpi
lagi, bermimpi yang nampak begitu nyata
sampai ku menangis dibuatnya
sampai tebangun dengan mata terbelalak dan dada yang berdegup kencang
semalam aku bermimpi kamu lagi
semalam kamu baru pulang dari jogja
dan kita tengah bercakap-cakap dalam kamar di ciputat
disaksikan raja-raja jazz di dinding dindingnya
disaksikan penulis-penulis mimpi di rak bukunya
dan kamu tidak bermaksud lagi, pastinya
tapi sakit datang lagi dan menusuk hati, lagi
ya, kamu tidak bermaksud begitu, lagi-lagi tentunya
semalam kamu menganggap aku sebagai sahabat
yang bisa kamu ceritakan apa saja
tentang kesedihan dan kegembiraanmu bersama dia
tentang kehidupanmu yang semakin seru setelah meninggalkanku
semalam kamu lagi-lagi menganggap aku teman kamu
yang tidak punya rasa cemburu karena begitu rindu
yang tidak punya rasa sedih karena begitu terbuang
semalam kamu terlalu nyaman dengan aku
bercerita tentang rindumu padanya
tentang apa yang akan kamu lakukan deminya
kamu tidak melihat wajahku yang beku
sementara mataku merah berapi
sebab semalam kamu merasa nyaman berbagi denganku
semalam amarahku memuncak
cemburuku kembali meledak
kesedihanku kembali tak terlawankan
ketika kamu mengatakan:
nanti kita mampir di rumah … (dia menyebut nama perempuan simpanannya) ya, aku mau ngasih oleh-oleh ke dia dari jogja. tapi kamu di mobil aja aku parkir agak jauh..
dan kamu tertawa, dan kamu mengharapkan aku membalas tawamu
tapi tidak, aku tengah melayangkan tanganku ke pipimu
semalam aku hampir saja melakukan hal yang sama lagi
tetapi terhenti lembut di pipimu, sebab aku melarang jari-jariku amuk, lagi
dan airmata jatuh dari mataku yang menatap jauh ke dalam dirimu
mencari-cari kesadaran di dalamnya, kesadaranmu tentang aku
aku menangis, malu, sedih, dan menyesal
aku lari dari kamar itu, meninggalkanmu yang telah lebih dulu meninggalkanku
ya, aku memang selalu terlambat dibandingkan kamu, suamiku
semalam itu mungkin pertanda
jawab diantara doa kita berdua
jawab diantara begitu banyak tanya
jawab diantara begitu banyak jawab
bahwa …
mungkin kalau kita tetap terus bersama,
aku hanya akan terus menjadi durjana
walau susah suamiku,
walau sedih mengingat rasa yang masih ada,
kita sudah pada hujungnya…”
paranoid
October 23, 2007
sambil menyeruput cangkir kopi panas pagi-pagi, saya membuka e-mail. sebuah surat datang dari kawan lama saya. isinya tidak panjang, namun ia menuliskan begitu banyak kata kunci yang membawa saya kepada masa lalu yang selalu menjadi kenangan indah. kawan saya yang memang akrab dengan keluarga saya, termasuk dengan almarhum papa dan almarhumah mama saya, bertestimonial tentang orangtua saya.
katanya: “saya ingat mama kamu yang dosen itu, selalu setia mengajarkan anak-anaknya untuk mandiri, sampai akhirnya kamu benar-benar bisa sendiri…”
kawan saya itu, bukanlah laki-laki yang suka bernasehat dan teman di kala duka. sebaliknya, ia adalah teman ‘keceriaan’ saya, sehingga ucapannya terasa begitu melankolis dan mengejutkan, sekaligus mencurigakan.
memang, saya yang tengah sensitif, merasa curiga…adakah ia tahu masalah yang tengah (ah, seandainya saya bisa menggunakan kata ‘telah’ dan bukannya ‘tengah’) saya hadapi.
mula-mula saya merasa terharu membaca e-mail darinya. saya merasa mempunyai kawan yang begitu baiknya berusaha menghibur saya dan memberikan dorongan semangat. tapi tentu perasaan itu hanya sekejap saja sebab langsung tergantikan dengan: dari mana dia tau? bagaimana dia tau? dan bagaimana reaksi mantan suami saya kalau dia tau bahwa teman saya itu tau?
mood saya langsung drop mengingat akan ada lagi telpon berdering dan langsung membentak-bentak saya dengan tuduhan pencemaran nama baiknya dan hujatan atas ‘politik luar negri’ saya (istilah dia yang selalu disampaikan dengan sinis ke saya) yang selalu cari sekutu untuk menghancurkannya. dan kali ini, bukannya tidak mungkin kalau dia akan kembali menuduh saya ‘menghumbar-humbar’ (ini juga istilah yang selalu digunakannya. hmm, dia memang bukan manusia yang mengerti istilah ‘berbagi’) cerita ke teman-teman yang dekat dengannya.
tiba-tiba pagi tadi saya langsung geram. rupanya saya sudah jadi paranoid, di mana setiap ada orang yang bisa mencium gelagat rusaknya hubungan kami, saya selalu merasa dipojokkan dan takut. tidak peduli apakah orang itu menghibur saya, membela saya ataupun tidak, saya tetap cemas.
walaupun secara geografis saya berada jauh dari semua orang, rupanya tuduhan itu tidak juga surut-surutnya. sebab ia yakin bahwa saya punya mata-mata, intel, anak buah yang saya gerakkan untuk membinasakannya.
“kamu memang sangat berbakat untuk memimpin. di manapun kamu berada, kamu tinggal pencet bomnya, dan meledaklah Jakarta. kamu tinggal angkat telepon, hancurlah aku. kamu memang hebat!”
lalu tidak lama setelah e-mail itu saya baca, hanpdhone saya berdering…
saya tidak mau mengangkatnya… saya menangis ketakutan. seperti hilang ingatan, saya terus bertanya dalam hati, apakah saya memang curhat pada kawan lama saya itu? kapan? di mana? bagaimana ketemunya sebab kami sudah lama sekali tidak berjumpa? tidak, saya tidak pernah. sungguh, sumpah, bukan saya yang cerita! jangan bentak-bentak saya lagi, jangan memaksa saya untuk membenci diri saya lagi………
dan akhirnya hp saya berhenti berdering.
kemudian sebuah sms saya terima: “Ibu, saya coba telpon tapi tidak dijawab. saya sudah e-mail data yang ibu minta, silakan dicek. kalau ada yang kurang jelas, silakang hubungi saya di nomor kantor yayasan.”
Masya Allah…………………
dago tea house, mana mungkin saya lupa
October 14, 2007
malam ini saya menerima sebuah sms dari seorang sahabat: “gue lagi di dago tea house. masih inget tempat itu?”
gemes banget karena saya tidak bisa membalasnya karena sim card HP saya tidak bisa aktif di luar negara, payah! jadi dibalas di sini aja ya, Ti.
mana mungkin saya lupa kenangan bersama teman-teman sma saya di suatu malam di dago tea house. di situ saya dan teman-teman satu kelas duduk-duduk, teman-teman saya yang laki-laki membuat satu pertunjukan, mengenang satu tahun kami di kelas dua sebelas. malam itu sangat menyenangkan buat saya, berada di antara teman-teman yang begitu akrabnya dengan saya sehingga saya tidak pernah merasa cemas untuk menunjukkan pribadi saya yang sebenarnya. tidak perlu khawatir untuk bicara apa adanya, walau ada yang sampai berantem-berantem urusan nelpon orangtua. tidak perlu menyembunyikan rasa ingin tahu dan kamipun membahas seks hingga pagi. that’s friendship, Ti. mana bisa saya lupa!
dan betapa bersyukurnya saya, sudah lebih dari sepuluh tahun jalan-jalan ke bandung itu berlalu, begitu juga masa sma saya berakhir, tetapi persahabatan itu masih terus kekal.
thanks ya Ti udah ngingetin saya betapa menyenangkannya hidup yang saya jalani ini!
Pink
October 14, 2007
dari kecil dan sampai sekarang, saya paling suka warna hijau. hijau lumut, hijau tua dan hijau seperti daun dan rumput. saya suka berada di tengah-tengah kehijauan alam dan dari kecil saya selalu minta supaya dinding kamar saya dicat warna hijau yang menyejukkan sekaligus menyegarkan. jadi seperti halnya kupu-kupu yang bukan binatang favorit saya, pink bukanlah warna yang saya gandrungi sejak lama. kalau kemudian sekang saya banyak tampil dengan ‘pink’, itu mungkin bisa-bisanya saya aja yang sok nyeleneh dan jadi suka karena terbiasa.
mula-mula saya suka kesel sama kakak saya yang modis itu, yang suka membelikan saya baju warna baby pink. dan setiap saya protes “kok pink lagi sih…” dia tidak sadar bahwa semua baju yang dibelikannya untuk saya berwarna pink; dan malah nyemprot saya balik “udah bagus dibeliin!”. mungkin juga karena itu saya pelan-pelan terbiasa pakai warna pink. lagipula saya bukan tipe orang yang pilih-pilih banget soal baju. apa yang ada aja saya pakai, dan saya paling jarang beli baju baru. maksimal saya beli t-shirt karena memang merasa paling nyaman ke mana-mana pakai t-shirt. tetapi ternyata sekarang pun satu dari dua t-shirt favorit saya berwarna hitam dengan tulisan-tulisan berwarna pink “… i may be small but i have a big fun” keluaran nike edisi airmax 360 (thanks to my ex, i love the tshirt, dear). dan mantan saya itu, juga kebawa-bawa beliin saya barang-barang yang pink, dengan alasan: “biar ga terlalu keliatan garang…” duhduh…
saya perhatikan, ramai orang yang punya persepsi (kalau tidak mau dibilang prejudice) bahwa untuk perempuan seumuran saya (hampir 30), pink adalah warna yang childish, manja, genit, feminin (bukan feminist ya), dan yah karena manja itu, dianggap tidak perkasa. sehingga saya yang seringkali tidak memperhatikan perkara-perkara konotatif begitu, tidak jarang dikomentari: “iddiiih, pink! sok imut banget sih!” (kadang becanda, tapi pastinya yang serius sinis ga sedikit juga).
mereka yang belum kenal saya, melihat saya pakai baju pink dan jam tangan pink (ini juga hadiah dari ex saya ketika kami ke shanghai, thanks… it’s so cool!) dan ditambah lagi dengan tubuh saya yang pendek, maka mereka suka menilai saya (terlalu cepat) bahwa saya adalah anak rumahan yang manis, yang suka bunga dan boneka, lagu-lagu pop ceria dan film-film drama romantis. wah, kalau mereka mau mengenal lebih jauh dan berinteraksi dengan saya lebih lama, mungkin ketauan deh banyak salahnya dugaan mereka tersebut. tapi saya tidak protes, ini semua bukan salah mereka semata, ini mungkin karena si pinky.
sementara mereka yang sudah lama mengenal saya dan memahami pribadi saya dengan baik, sebutlah teman-teman sma dan teman-teman tim saya, mereka tidak banyak komentar melihat sendal crocs saya yang pink abees, selain: “ga pantes deh lo, kaya anak baik-baik, tau ga!” (halah, emang saya bukan anak baik? yang bukan ‘anak’nya atau ‘baik’nya ya?). suatu hari saya juga pernah mendengar candaan sahabat saya (’sister’ saya di perantauan): “haha, kak nisa kalau pakai pink kesannya ramah dan imut-imut.
di satu sisi saya mau mematahkan teori yang mengeneralisasi perempuan dengan mengatakan bahwa pink adalah warna milik perempuan-perempuan manja. bukan saya sok tough, tapi pada kenyataannya ex saya sendiri bilang: “ajaib kamu suka warna pink”. misi saya ini bukan untuk menipu orang bahwa saya yang berkaos pink,crocs pink, dan jam tangan pink ini dengarnya avant-garde-jazz atau hobinya jalan-jalan sendirian, tidak ragu-ragu menyiapkan kepalan tangan kalau berada di terminal dan selalu waspada: “kalau ada yang nyolek gw di tempat-tempat ga sesuai, ga peduli siapa, gw tonjok dulu!”.
saya pakai warna pink bukan mau meyesatkan mereka, tetapi sedikit mengajarkan bahwa setiap manusia itu unik, tidak bisa dinilai hanya dari baju yang dipakainya, musik yang didengarnya, atau warna pilihannya (atau dipilihin kakaknya untuk dipakainya, thanks anyway, sis =))
pink ini juga warna terapi saya. ketika hari-hari saya sejak awal 2007 sudah black and blue, saya tidak mau melepaskan kebiasaan saya untuk pakai jam tangan pink dan mencoba untuk seceria penilaian orang terhadap warna ini. si sinis mungkin mengatakan “mencoba menutup-nutupin masalahnya, sok relaks, sok asik, sok ceria!”. hmm, bukannya ’sok’, tetapi saya memilih menggunakan kata ‘melatih diri’ untuk relaks. ah, soal sinister orang mah, itu bukan masalah saya, sebab orang-orang prejudice dan sinislah yang bermasalah mentalnya, bukan saya yang bermasalah. saya sih ketawain aja orang yang sempat bermaksud menghina saya dengan mengatakan: ‘bini ceria’
kupu-kupu ini
October 12, 2007
kupu-kupu bukanlah binatang yang akrab dengan saya, atau setidaknya belum akrab karena saya memang tertarik untuk pelan-pelan mengenal jenis-jenisnya, membedakannya dari ‘moth’ yang saya belum tau juga apa bahasa indonesianya. kupu-kupu yang berasosiasi dengan bunga malah tidak pernah benar-benar menarik hati saya, sampai saya menerima sebuah e-mail dari sahabat saya yang berisi tentang kupu-kupu.
di cerita tersebut, seorang lelaki (dan aku selalu menganggapnya sebagai metafora sahabatku itu) memperhatikan sebuah kepompong yang menggantung pada sebuah batang pohon di depan rumahnya. setiap hari ia berjalan melewati pohon tersebut, hari demi hari ia selalu memperhatikan, sebab ia tidak mau terlewat menyaksikan seekor kupu-kupu yang indah keluar dari kepompong tersebut. hingga suatu hari ia melihat adanya gerakan dari dalam kepompong, iapun mendekat dan melihat bagaimana seekor kupu-kupu kecil berusaha susah payah, sangat susah, untuk keluar dari kepompongnya. terus menerus kupu-kupu itu bergerak, merobek, melepaskan diri dan keluar dari ruang sempit dan menyesakkan itu. begitu susahnya sampai lelaki itu tidak tega menyaksikan kesulitan yang dihadapi si kupu-kupu.
lelaki itu kemudian berlari masuk ke dalam rumahnya. ketika keluar, ia membawa gunting kecil yang biasa digunakan untuk membedah. “tidak mungkin aku diam saja menyaksikan kupu-kupu itu dalam kesulitan,” batinnya. pelan-pelan ia menggunting lembaran kepompong yang menyelimuti kupu-kupu tersebut dengan harapan si kupu-kupu dapat keluar dengan mudah.
hanya dengan segaris guntingan saja, terbukalah kempompong itu, dan si kupu-kupupun dapat keluar dengan mudahnya. tetapi, si lelaki terkejut melihat kupu-kupu yang tidak seperti kupu-kupu lainnya. di hadapannya bukan mahluk yang bersayap lebar dan indah, ia tidak bisa terbang. bahkan bergerak saja nyaris tidak mampu dilakukan kupu-kupu tersebut. lelaki itu panik bukan main. berhari-hari ia mengharapkan munculnya mahluk indah dari dalam kepompong, sekarang ia malah… membunuhnya?
Sedih dan panik, lelaki itu tidak menduga, niatnya untuk menolong malah justru membunuh kupu-kupu tersebut, kalaupun hidup, kupu-kupu itu tidak akan pernah dapat terbang. berusaha untuk tidak putus asa, lelaki itu hanya bisa mengembalikan si kupu-kupu ke dalam kepompong, dan menutup kepompong itu kembali dengan memberikan madu sebagai lemnya.
keesokan harinya ia melihat adanya gerakan lagi dari dalam kepompong tersebut. bukan main betapa gembiranya ia melihat si kupu-kupu bergerak dengan sepenuh tenaga, seakan-akan meronta-ronta merindukan udara bebas. akhirnya, lelaki itu menyaksikan sebuah kupu-kupu dengan sayap yang sempurna bentuk dan warnanya keluar merobek kepompongnya. ia terbang, lelaki itu mengikuti dengan matanya sambil tersenyum haru. terbang menuju langit lepas dengan mengepakkan sayapnya yang lebar, cantik dan kuat.
saat meneruskan perjalanannya, lelaki tadi teringat pada kejadian di hari sebelumnya. membantu kupu-kupu kecil itu keluar adalah suatu kesalahan. kupu-kupu itu memang secara alami harus berusaha dan berusaha ketika ia berada dalam kungkungan kepompong. usaha itu harus dilakukannya sendiri, dari dalam dan dengan penuh kesungguhan tanpa putus asa. itu adalah jalannya menuju kesempurnaan dirinya, kekuatannya, serta keindahannya.
ia tersenyum karena merasa betapa bodohnya ia menganggap kupu-kupu itu tidak mampu menyelesaikan prosesnya sehingga ia harus menolong. ia besyukur sekali dengan pelajaran yang disampaikan oleh Tuhan melalui kupu-kupu tersebut, bahwa kita semua sebenarnya adalah kupu-kupu yang cantik dan kuat. walaupun kadang dalam hidup kita masalah demi masalah membuat kita terkungkung dan dari waktu ke waktu kita berjuang sekuat tenaga untuk melewatinya. dan perjuangan itulah memang yang kita butuhkan untuk mencapai kebahagiaan, seperti ia menyaksikan kupu-kupu yang semakin tinggi dan jauh terbang bebas… sampai tidak nampak lagi olehnya.
saat saya membaca e-mail sahabat saya itu, saya tidak dapat menahankan airmata. sebab saya memang tengah dalam kondisi yang sangat buruk, hancur, dan merasa tidak mampu melewati cobaan yang demikian beratnya. namun saya disadarkan, bahwa cobaan memang harus ada dalam hidup saya, dan saya harus menggunakan segenap kekuatan saya untuk menghadapinya. hanya dengan cara berjuang secara konsisten dan resisten lah saya dapat merobekkan ‘kempompong’ saya, dan dengan penuh keyakinan saya harus mengatakan pada langit: tunggulah kehadiran saya…
cinta… ?
October 12, 2007
beberapa bulan yang lalu sesaat sebelum menjatuhkan talak, mantan suami saya berkata: “aku mencintainya, tidak bolehkah hidupku yang sekali ini kulalui dengan orang yang aku cintai?”
katanya lagi: “aku tahu, dibandingkan dengan kamu, dia memang masih jauh, tidak matang,belum peka dan kritis jalan fikirannya. tapi inilah mungkin yang dinamakan ‘cinta’. sesuatu yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan dengan logika.”
begitulah katanya, romantis dan putis, dia berubah 180 dejat dari orang yang ’plainly logic’ dan bertanggung jawab, menjadi orang yang ’liberal’ dan bisa-bisanya mengambil keputusan mengatasnamakan…cinta? apa iya, cinta? bukan nafsu atau ego sajakah itu? entahlah, sebab pengalaman saya dengannya, waktu itu kami butuh waktu berbulan-bulan untuk menyadari dan akhirnya mengakui rasa cinta satu sama lain. dan ia baru saja mengenal perempuan ini, dan kononnya sudah sangat jatuh cinta. yah, bisa-bisa aja sih…
tanpa berfikir lagi, dengan dorongan ‘cinta’ itu, dia memutuskan untuk melakukan segalanya demi ‘cinta’, termasuk meninggalkan istrinya.
bukannya menangis menanggapi omongannya, sore itu di cafe kecil di pinggir jakarta saya malah mengeluarkan notebook dan pulpen yang selalu saya bawa . saya menuliskan “perasaan” besar-besar dan melingkarinya. dan di lingkaran lain yang terpisah saya tulis “perbuatan”. kertas dan pulpen memang banyak membantu saya mengendalikan emosi =)
“jangan tertukar, antara perasaan dan perbuatan. cinta adalah perasaan,” begitulah saya memulai ‘pelajaran’ sore itu seperti yang sudah biasa saya lakukan di depan murid-murid saya. “perasaan mungkin terlahir tanpa permintaan dan kehendak kamu, sehingga kamu tidak bisa disalahkan apabila memilikinya. dia bebas nilai, tidak salah dan tidak benar juga. kamu tidak bisa menyalahkan orang karena ia menyukai atau tidak menyukai sesuatu.”
“sementara yang ini,” saya meneruskan sambil menunjukkan pulpen ke ‘perbuatan’, “adalah hal yang harus kamu pertanggung jawabkan. di sinilah letak salah/benar. sikap dan perbuatan lah yang menentukan kualitas manusia. bukan perasaanya. mungkin saja Queen Elizabeth benci dengan kelakuan mendiang Lady Di, tapi begitu dia melihat ekspektasi rakyat bahkan dunia, dia tidak bisa lagi bergerak sesuai perasaannya.”
pause. saya meneguk kopi yang tinggal seperempat mug. saya biarkan dia befikir satu menit sebelum melanjutkan: “jadi kalau kamu bicara soal benar dan salah, terlepas dari saya adalah istri kamu, maka kamu salah. bukan karena kamu memiliki rasa cinta pada orang lain, tetapi karena kamu melepaskan tanggung jawab kamu, karena kamu berselingkuh dan meninggalkan istrimu.”
“Aku orang merdeka, aku orang bebas, kenapa saya tidak boleh memilih berdasarkan hati? kamu tau bahwa cari duitpun aku memilih pekerjaan yang aku sukai, kenapa tidak dengan kehidupan sosialku?”
saya terdiam, ada rasa tidak percaya pada kedangkalan ide manusia yang duduk di hadapan saya senja itu. “seperti saya bilang, kamu tidak dalam kondisi memilih, tau?” ujar saya pelan-pelan seolah-olah berbicara dengan anak belasan tahun yang meledak-ledak dan irasional. “masa kamu memilih sudah lewat, yaitu sebelum kamu bersumpah atas nama Allah di hadapan saksi dan penghulu. dan sekarang adalah saatnya kamu bertanggung jawab menanggung segala konsekuensi dari pilihanmu waktu itu. sekaranglah saatnya kamu ‘deal’ dengan apa yang kamu miliki, yaitu aku. di mana kalau aku punya kekurangan, kesalahan, maka bantulah aku memperbaiki semua itu. begitu juga aku ke kamu. lari dan meninggalkan apa yang sudah kamu miliki tanpa berusaha memperbaikinya,… aku tidak yakin itu adalah suatu perbuatan yang bisa dinilai benar, suamiku. kamu telah berselingkuh, dan kalau ada tekad untuk mengakhirinya dan kembali bersamaku, aku siap. aku siap menempuh segala konsekuensi dari pernikahan. aku tidak main-main ketika bersumpah di pagi hari itu, di hadapan Allah dan keluarga. pernikahanku adalah hidup dan masa depanku. maka aku tidak akan lepaskan begitu saja.”
“Tapi, apakah sehat hubungan kita apabila aku tidak lagi menyayangimu karena aku sayang padanya?”
“Perasaan, itu bukan kamu yang kendalikan. Allah Maha Membulak-balikkan hati manusia. berdoa dan memintalah agar rasa sayangmu tumbuh pada-Nya dan pada istrimu, mintalah restu-Nya agar kita bisa terus amanah menjalankan pernikahan ini. Percayalah, pasti susah, tapi kita pasti bisa. semua sekarang tergantung pada tekad kamu, pada komitmen dan kesungguhan kamu untuk meneruskan pernikahan ini. Mau?”
giliran dia yang terdiam. dan handphonenya terus aktif merekam pembicaraan kami. dia merekamnya dengan tujuan untuk didengarkan lagi kemudian, katanya. supaya dia bisa merujuknya kembali saat dia berfikir dan mempertimbangkan ulang keputusannya untuk menceraikan saya demi cintanya itu.
tiga bulan hampir berlalu, masa iddah belum berakhir, artinya kami bisa rujuk kembali. akan tetapi, kemarin pagi dia baru saja melepon saya lewat sambungan internasional, katanya: “barang-barang kamu di sini (di rumahnya) sudah aku pisahin. tinggal dibawa ke rumah kamu…”
sepertinya dia sudah berfikir balik seperti apa yang dikatakannya di sore hingga senja itu, di suatu kafe kecil di pinggiran jakarta.
the brave one
October 12, 2007
Dari mana datangnya keberanian? Adakah ia datang dari keyakinan seperti semboyan ‘berani karena benar’? Ataukah ia memang diciptakan dari kebiasaan seperti sudah biasa hidup di daerah rawan sehingga menjadi berani menghadapi malam? Boleh jadi demikian. Tapi Erica Bain (dimainkan oleh Jodie Foster) menambah satu dorongan yang menyebabkan manusia melahirkan keberanian dalam dirinya, yaitu karena kecemasan dan ketakutan.
Pistol. Itulah terapinya untuk tampil percaya diri di “kota metropolis teraman di dunia” (sindirannya untuk NYC). Mula-mula ia beli pistol hanya untuk proteksi diri yang dihantui trauma atas penganiayaan yang dialaminya dan menyebabkan calon suaminya mati. Entah memang nahas atau alam The Big Apple memang demikian, ia terus menerus ‘kebetulan’ berada pada kondisi yang seakan-akan memaksanya untuk menggunakan pistol.
Terapinya melawan rasa takut lebih dari berhasil. Pistol itu akhirnya membuat dirinya merasa kuat, berani, dan secara tidak sengaja, membuatnya pula merasa berhak untuk memelihara dendam dalam batinnya. Dendam yang membabi buta, yang membuatnya tidak lagi menghindari bahaya melainkan dia memilih untuk melawan. Dan Ericapun ketagihan atas kuasa yang dimiliki senjatanya untuk membunuh kriminal, termasuk para pelaku kejahatan yang tidak ada hubungannya dengan kasus yang menimpa dirinya sekalipun.
Ada debat moral, antara aksi memberantas kriminal (yang kebanyakan sulit dilakukan lewat jalur hukum formal); dengan kebiadaban membunuh orang dengan darah dingin. Tetapi Erica berargumen: “There should be someone who do the job for you” (and you can’t really say if you would refuse the help). Kalau kata teman saya, mungkin itu perpanjangan ‘tangan’ Tuhan, yang menolong kita, walau kita tidak minta dan kita sedikit protes dengan caranya. Dan kata teman saya itu lagi, ya berterima kasih aja lah, toh kalau dia salah, bukan tanggung jawab kamu. Kan kamu memang tidak pernah minta bantuannya. Boleh juga tuh, sepertinya itu memang yang difikirkan si detektif (diperankan oleh Terrence Howard). Serupa dengan kasus yang menimpa saya, dituduh mencemarkan nama baik seseorang yang memang telah menghinakan dirinya sendiri (namun berusaha menutupinya).
Saya yang menjadi korban (sebenarnya saya menolak menganggap saya demikian) penghianatannya, memang paling empuk untuk dijadikan sasaran tuduhannya sebagai penghumbar keburukan dia. Buat saya, tuduhan tersebut sangat menyinggung dan merendahkan. Dorongan untuk membalas dendam memang kuat, tetapi itulah perang yang saya jalani setiap hari, bukan melawannya, bukan menghancurkan hidupnya seperti yang ia kerap tuduhkan. melawan semua dorongan maksiat dan jahat yang ditimbulkan oleh sakit hati dan amarah memerlukan energi positif yang besar, maka mana mau saya menimbulkan energi negatif lagi. saya tidak mau lagi sakit hati, itu yang saya mohonkan pada Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Dengki, cemburu, amarah, kecewa,… adalah penyakit hati yang dapat membuat orang menjadi ‘berani’, seperti yang dialami Erica. Memang saya mau menjadi berani dan kuat, tetapi tidak bingung dan penuh dendam sepertinya.
Tuhan sudah mengatakan bahwa semua hukuman adalah hak-Nya, bukan hak manusia yang rendah dibandingkan kekuatan-Nya. saya pun mempercayai-Nya, yakin atas ke-Maha Adil-annya. maka ketika ada seseorang yang yang membuka aib orang yang mendzalimi saya tersebut, mengapa ia tergesa-gesa menuduh saya yang merancangnya? mengapa ia tidak bisa mengerti bahwa ‘Tangan Tuhan’ itu bekerja tanpa seorang manusiapun diminta pendapatnya? Tuhan bertindak tanpa perlu minta persetujuan saya, Ia ‘masuk’ dalam diri orang lain, dan orang tersebut tanpa pula meminta izin saya bertindak seperti Erica yang ‘do the job for you’, tanpa minta izin saya, tanpa minta pendapat saya. dengan caranya sendiri, yang mungkin si penuduh itu sangat keberatan. But why am i to blame?
mawadah, warahmah,… dan amanah
October 7, 2007
mengapa menikah?
apa yang mendorongmu untuk menikah?
bukan pertanyaan yang sederhana melainkan dibutuhkan kedewasaan untuk menjawabnya. namun menurut saya, ada satu pertanyaan lain lagi yang lebih menuntut kebijaksanaan untuk menjawabnya:apa yang membuatmu mempertahankan pernikahan?
Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tulisannya mengenai pernikahan menjelaskan tiga perkara yang harusnya menjadi landasan umat Islam untuk menikah sekaligus mempertahankan pernikahannya. mereka adalah ‘mawadah’; ‘rahmah’; dan ‘amanah’.
mawadah bukanlah berarti cinta yang sederhana, yang begitu mudahnya menyaru dengan nafsu dan ego manusia. mawadah, menuurut Quraish adalah suatu cinta yang begitu mendalam dan penuh keikhlasan. mawadah adalah cinta yang penuh kemaafan. dengan mawadah, seseorang bisa merelakan masa lalu dirinya dan pasangannya sehingga tidak ada perselisihan yang mengungkit-ungkit masalah yang sudah lewat. mawadah membuat seseorang memaafkan kesalahan pasangannya dan siap untuk membangun kembali kepercayaan bersama-sama. maka tanyakanlah pada dirimu: dapatkah aku memaafkannya?
apabila jawabanmu adalah ‘tidak’ maka jangan terburu-buru memutuskan untuk berpisah. masih ada dua alasan lain yang hendaknya melestarikan janji suci pernikahanmu.
rahmah adalah kasih sayang yang tidak mengharapkan balasan serupa. rahmah adalah sikap yang meyakini bahwa kasih sayang yang kita bagi kepada pasangan kita mungkin tidak direspon seperti yang kita harapkan, namun percaya bahwa Allah akan menanggapinya dengan layak. sehingga tidak ada protes: kurang apa lagi sih aku mencintaimu?
kasih sayang ini juga menjadikan seseorang berempati dan simpati kepada pasangannya. ia memahami bahwa dirinya berarti untuk pasangannya dan sebaliknya. sehingga ia berbelas kasihan kepada pasangannya yang membutuhkannya, yang akan sedih dan susah tanpanya, dan yang telah membangun impian dan cita-cita bersamanya sebagai suami istri.
maka apabila pasanganmu melakukan kesalahan,
dan kamu tidak dapat bersikap mawadah,
dapatkah kamu mengasihaninya, mengasihinya, menunjukkan sikap rahmah?
apabila jawabanmu masih lagi tidak,
maka fikirkanlah untuk menjaga amanah Allah.
akhirnya, menurut Quraish, semestinya amanahlah yang menjadi benteng terakhir dalam mempertahankan rumah tangga. amanah adalah sifat dan sikap memelihara segala yang telah dititipkan Allah kepada kita. apabila pernikahan telah dianugerahi anak, maka ia (mereka) adalah amanah bagi orangtuanya, yang harus difikirkan apabila mereka terdorong hawa nafsu untuk bercerai.
istri/suamimu juga adalah amanah yang harus dipelihara. ia telah memberikan jiwa dan raganya kepadamu. ia telah mengikhlaskan masa depannya untuk kamu ‘gerecoki’ sekaligus ia berharap kepadamu. dan karena amanah inilah ikrarmu tidak sekedar terucap untuknya, tetapi juga untuk Allah. maka sanggupkah kamu memelihara janjimu? merawat titipan-Nya dengan sebaik-baiknya? maukah kamu melakukannya?
menjawabnya dengan kata ‘tidak’; itulah yang menjadikan perceraian sebagai perkara yang paling dibenci Allah.