dia tidak suka minum kopi, mantan suamiku itu. tidak berubah dari sejak kami bersama, maka beberapa bulan yang lalu ketika aku ketemuan dengannya di sebuah kedai kopi di dekat kantorku, iapun memilih untuk tidak memesan apa-apa.

kejadiannya sudah sekitar enam bulan yang lalu, cukup lama setelah kami resmi bercerai. kamipun berbincang-bincang sederhana. tentang pekerjaanku secara garis besar, pacar baruku secara garis besar, keluarganya secara garis besar, dan semuanya hanya garis besar basa basi belaka.

tetapi pertemuan itu tidak aku atur hanya untuk berbasa-basi. aku melakukannya untuk menjawab satu pertanyaan: “apakah aku sudah siap untuk memulai hubungan baru dengan laki-laki lain?”

maka salah satu indikator yang aku tetapkan adalah: “kalau aku bisa bersikap dan berperasaan biasa-biasa saja, tanpa sedih tanpa rindu dan tanpa marah, maka aku sudah lepas dari mantanku, dan aku siap untuk memulai hubungan baru”.

dan bersyukurlah aku.

pembicaraan yang hanya sekitar satu jam itu memantapkan aku untuk bergerak maju, meninggalkannya, dan siap membuka bab baru dalam hidupku bersama laki-laki yang luar biasa yang hingga hari ini berjalan bersamaku.

tetapi ketika kopi di cangkirku sudah dingin dan tinggal memenuhi seperempat cangkir, iapun berkata:

“waktu itu, aku pernah bilang sama kamu… kalau kamu sudah bisa memaafkanku, tolong beritahu aku…”

dan aku hanya menjawab: “ya, aku ingat. dan sampai saat ini, belum ada yang bisa kukatakan…”

ia tersenyum. aku juga. betapa aneh rasanya menjadi orang dewasa. kami dapat bercakap-cakap dengan damai, walaupun sebenarnya hati belum memaafkan.

dan sampai hari ini, belum ada yang bisa saya sampaikan kepadanya. walaupun saya sangat bahagia dan bersyukur karena Allah mengobati luka saya, menggantikan sakit dan kehancuran saya dengan pekerjaan, calon suami, sahabat dan keluarga yang luar biasa;

belum ada yang saya perlu sampaikan kepada mantan suami saya.

Dari Hillside (Gate C2) Sepang Circuit siang itu di bulan Maret, saya mencoba untuk telpon mantan suami saya (blame me, tapi kami memang masih suka ngobrol2 sebenernya, secara rahasia karena dia ga mau ketauan sama pacar d/h simpenannya) dan ceritanya mau pamer suara gemuruh mesin-mesin si ceper-ceper yang super kenceng dan super keren itu. Saya mau pamer kegembiraan saya bisa berada di sana, mengalungi 40D (tiba-tiba jadi mini banget dibandingin lensa-lensa ‘gayung’ yang betebaran di sana :P ) dan berada di antara penggemar Formula 1.

Mantan saya ini memang dulunya partner nonton F1 lewat kaca tivi. “Sa, Kimi mesinnya jebol!” atau “Sa, Alonso keluar!” begitu yang biasanya dia teriakkan dari ruang tivi rumah saya ketika perhatian saya seringkali teralih ke isi kulkas :P . Memang cerita itu sudah sangat lama sih, tapi kan kami sama-sama sempet kekeuh bahwa tidak ada istilah ‘mantan’ dalam persahabatan. Dan maknanya, kenangan-kenangan yang menyenangkan itu tidak akan pernah basi untuk saya.

Maka tadi siang juga demikian, dua orang yang saya coba telpon adalah dia dan kakak ipar saya, yang anaknya dikasih nama sama dengan nama kecil Kimi Raikonnen, Raka. Mereka adalah partner andalan saya kalau membahas F1 (Aan, kamu di mana?!). Dan dua-duanya tidak menjawab telpon saya (apes! Emang ga boleh pamer kali ya hehe). Akhirnya kedua-duanya saya sms aja (pantang menyerah! Hehe). Sms saya untuk mantan saya itu adalah begini:

“Payah ah… gw mau pamer suara gemuruh sepang circuit padahal…penting tuh! :P

Mantan saya ini memang pernah berpesan bahwa jangan telpon kalau ngga penting-penting amat. Makanya saya tegasin di sms saya, ‘pameran’ saya ini sangat penting. Excitement yang saya rasakan ketika mendengar suara raungan mesin, dan ledakan bak kembang api ketika mobil-mobil tersebut berbelok, luar biasa! Saya rasa akan sangat menarik berbagi perasaan ini kepada orang yang saya tahu betul juga penggemar F1 (ngga tau ya kalo sekarang ngakunya ga suka lagi. Tapi kalau dia bilang demikian pun mungkin akan saya acuhkan seperti ketika dia mengaku demikian tentang jazz. Tidak mungkin!).

Ketika menunggu race berikutnya dan saya duduk di atas rumput di hillside sepang circuit (ya, saya mengulang-ulang lokasi ini… tandanya saya benar-benar excited!), rupanya sms saya sudah terbalas, begini bunyinya: “Kampung lo. D&$#n (“si yang tidak boleh disebut namanya) lg tidur, “

Ha? … hahaha… mulai lagi nih… hahaha… begitulah reaksi saya. Sayangnya saya tengah bersama orang-orang yang baru kenal saya siang itu (yang cuma tahu saya penggemar Kimi dan saya mahasiswa dari Indonesia), di hillside Sepang circuit. Jadi kalau saya ketawa-ketawa baca sms, pasti teman-teman satu tim saya itu (haha) pada bingung. Akhirnya ya saya balas saja sms itu dengan tidak kalah nyolotnya (hehe… ini namanya alien vs predator): “Daripada pelacur, mendingan kampung hehe.. kasian amat si lu, masih aja takut ama gw..”

(as I always said: perang adalah ekspresi termudah dari kecemasan)

Sinting memang, saya benar-benar kasar banget menyebut dia begitu. Biarlah! Saya terlalu senang untuk merasa bersalah. Gimana ngga senang, wong saya lagi ada di hillside sepang circuit kok. Wong baru diumumin kalau Massa mencetak waktu tercepat kok. Mana bisa saya bete?

Hmm, but it could be something to discuss, anyway. Kampung? Iya juga sih, soalnya di kampung saya di ciputat tidak ada circuit macam ini (yang ada hillsidenya seperti ini, yang saking deketnya dari lintasan, bisa ngelempar botol aqua ke jalan buat cari-cari perhatian Kimi), dan seumur-umur memang ini pertama kalinya saya nonton F1 live, jadi budek mendadak, dan tentu saja, jadi kampungan mendadak. Lari ke sana kemari untuk memastikan sebisa mungkin ke mana mobil merah itu pergi, berharap-harap cemas mereka berdua akan senantiasa kenceng dan aman. Bersorak-sorak ketika Massa menyalip Hamilton di depan mata, Yippie! High five bersama orang-orang yang berbaju merah-merah, membawa bendera gambar kuda, kami semua jadi orang kampungan. Ada yang dari kampung Barcelona, kampung Bukit Timah di Singapore, kampung Penang, kampung … . Kampung global, mbak; pernah denger? Global village, kan embak anak pinter pasti embak tahu lah.

Eh, rupanya sms saya dibalas lagi (iyalah Sa, jangan sok kaget deh. Setelah menyebut dia dengan “P” gitu, masa berharap dia adem ayem aja sih), “Gausah saling menghina pake telpon gw, gw dah cape, kontak ke hp dia, 0856789xxxx, gw lg istirahat, jangan ganggu.”

wah kali ini mantan saya beneran yang bales, bukan si tukang cek telponnya.

Duh… lagi-lagi ga boleh kelihatan senyum-senyum aneh nih… jadi ya saya balas aja: “Gw mah mau pamer ama lu d&%, kaga ada urusan ama dia. MAN, THIS IS SO COOL!! GO KIMI!!”

Sudah lama banget rasanya; bukan saja kehilangan Kimi, Nico Rosberg, Heiki, dan kawan-kawan. Tetapi kehilangan spirit untuk nonton F1. Dulu, di 2006, saya naik sepeda dari Kolej Ibu Zain ke Hentian Kajang, sengaja pakai baju Mercedez(dulu Kimi masih McLaren) untuk nonton bareng Aan, si gila F1. Dan biasanya sms-smsan atau telpon-telponan sama sahabat saya itu untuk saling komentar tentang jagoan masing-masing (dia selalu sok ga mau kompak sama saya, menganggap Alonso lebih hebat. Who cares, Kimi lebih ganteng!). Dan di 2007, sucks! Saya kehilangan semangat itu. Kehilangan gairah minggu siang. Such a waste of year, it was. Makanya tahun ini, sebagaimana resolusi saya di tahun baru, no more penyakit-penyakit 2007 yang boleh merusak system saya lagi!!

So, si “anak kampung penggemar Iwan Fals yang pink ceria sok asik” ini kembali bergairah dengan F1-nya…. Silakan bete, silakan ngamuk. Tapi saya sih teteuuup… GO KIMI!!

satu malam di jembatan gang

December 10, 2007

setelah tidak bertemu selama hampir 4 bulan, akhirnya semalam mantan suami saya mengajak bertemu. mendadak dan tanpa perlu sok menolak (yang ini adalah kebiasaan perempuan yang tidak pernah saya ikuti, kalau mau ya mau kalau nolak ya nolak), saya iya-kan pertemuan itu.

sahabat saya yang kebetulan lagi chat sempet bilang: “dandan yang cantik, gih!” dan saya lagi-lagi tertawa menanggapinya. saya? cantik? ngga bisa diapa-apain lagi lah kalau soal penampilan =)

akhirnya sayapergi  dengan kaos hitam dengan foto keluarga simpsons di bagian depannya dan celana pendek lusuh kotak-kotak andalan. dia selalu mengenal saya, apa adanya, dan pertemuan kali ini adalah suatu acara natural saja, tidak perlu dimeriahkan dengan kostum spesial apapun.

saya yang telah terbiasa waspada setiap bertemu atau berbicara di telpon dengannya berkali-kali berkata: “ayo, sampaikan aja amarah atau protes kamu. aku siap kok ditembak lagi…” dengan nada datar. tetapi ia selalu menjawab dengan kalimat serupa: “ngga kok, aku cuma pengen ketemu, kita udah lama ga ketemu. dan aku pengen tau aja kamu gimana sekarang… ternyata makin lucu.”

kemudian ia mencoba untuk tidak membicarakan administrasi perceraian kami… tetapi saya tidak mau terbawa arusnya. saya tetap sampaikan bahwa walaupun secara agama kami telah bercerai, tetap secara hukum negara kami belum resmi dan bertanya lagi dan lagi kenapa ia tidak pernah bersungguh-sungguh menyelesaikannya. “Alasan sibuk kamu sudah tidak bisa ditolerir lagi,” begitu kata saya pelan tanpa melibatkan emosi yang tengah membara di hati saya.

dan kamipun meninggalkan Pizza Hut tempat kami bertemu. selanjutnya adalah keliling-keliling kawasan ‘neighborhood’ saya dengan naik motor. sampai akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di suatu tepi jalan kecil (gang), duduk di bawah lampu jalan yang semakin rapuh dengan sinar yang hampir tidak berbekas di tanah. saya menyilakan kaki di jembatan itu, berhadapan dengannya yang terlalu mudah melepaskan airmata dari pelupuk matanya yang lelah. ia nampak lelah, tapi saya tidak bisa lagi mengasihaninya. saya selalu mengajarkan fikiran dan hati saya dengan doktrin: “dia sudah bahagia, mendapatkan perempuan yang dicintainya…”. saya memang tidak pernah benar-benar tahu apakah dia bahagia, saya buta tentang kesibukan dan aktivitas hariannya. tetapi saya putuskan untuk benar-benar tidak mau tahu.

ia menangisi saya. perempuan yang ditinggalkannya, dibuangnya dan digantikan tempatnya dengan perempuan lain yang lebih berpotensi untuk menjadi jauh mendekati sempurna. “kenapa harus kamu yang aku sia-siakan?” rintihnya. dan saya menjawab: “lalu, apa kamu pikir ada orang lain yang layak berada di tempatku? tidak satupun orang pantas untuk dibuang,…” ujar saya pelan tanpa ragu menatap matanya yang menghindari saya.

malam itu, semalam, kami berbincang-bincang dengan begitu damainya. sesekali saya melontarkan lelucon-lelucon ‘garing’ yang membuat kami tertawa, saya merasa masih begitu mengenalnya walaupun begitu banyak langkah dan keputusannya yang tidak bisa saya pahami. tetapi saya tetap tidak mengeluarkan air mata, saya tidak marah ketika mengatakan betapa sakitnya hati saya. saya tidak berteriak atau membentak ketika saya menyampaikan betapa tidak pernah sekalipun dalam hidup saya ada orang yang membuang dan menghina saya. dan saya pun tidak merasa bangga ketika dengan bersimbuh airmata ia mengatakan: “kamu hebat sekali, berjuang sampai akhir untuk mempertahankan pernikahan kita…”

tidak ada satu emosi yang menguasai saya malam itu, di jembatan di suatu gang. tidak ada airmata yang tak tertahankan, tidak ada marah yang tak teredamkan, dan tidak ada sedih yang tak terabaikan. saya hanya bisa mengatakan: “jangan menangis, setidaknya jangan menangis di hadapanku,… karena aku tidak mau menyesal membiarkanmu pergi…”

barulah ketika kami berpisah, saya kembali ke rumah dan tundukkan kepala saya dengan kening yang selevel dengan kaki, saya menitikkan airmata di atas sajadah biru. dalam shalat isya saya semalam, saya haturkan rasa terima kasih saya yang begitu besar kepada Gusti Allah, yang begitu bersungguh-sungguh menjaga saya, merawat luka saya, dan memelihara saya sehingga satu malam itu, semalam, di jembatan di suatu gang, saya bisa tenang dan ramah menghadapinya.

paranoid

October 23, 2007

sambil menyeruput cangkir kopi panas pagi-pagi, saya membuka e-mail. sebuah surat datang dari kawan lama saya. isinya tidak panjang, namun ia menuliskan begitu banyak kata kunci yang membawa saya kepada masa lalu yang selalu menjadi kenangan indah. kawan saya yang memang akrab dengan keluarga saya, termasuk dengan almarhum papa dan almarhumah mama saya, bertestimonial tentang orangtua saya.

katanya: “saya ingat mama kamu yang dosen itu, selalu setia mengajarkan anak-anaknya untuk mandiri, sampai akhirnya kamu benar-benar bisa sendiri…”
kawan saya itu, bukanlah laki-laki yang suka bernasehat dan teman di kala duka. sebaliknya, ia adalah teman ‘keceriaan’ saya, sehingga ucapannya terasa begitu melankolis dan mengejutkan, sekaligus mencurigakan.
memang, saya yang tengah sensitif, merasa curiga…adakah ia tahu masalah yang tengah (ah, seandainya saya bisa menggunakan kata ‘telah’ dan bukannya ‘tengah’) saya hadapi.

mula-mula saya merasa terharu membaca e-mail darinya. saya merasa mempunyai kawan yang begitu baiknya berusaha menghibur saya dan memberikan dorongan semangat. tapi tentu perasaan itu hanya sekejap saja sebab langsung tergantikan dengan: dari mana dia tau? bagaimana dia tau? dan bagaimana reaksi mantan suami saya kalau dia tau bahwa teman saya itu tau?
mood saya langsung drop mengingat akan ada lagi telpon berdering dan langsung membentak-bentak saya dengan tuduhan pencemaran nama baiknya dan hujatan atas ‘politik luar negri’ saya (istilah dia yang selalu disampaikan dengan sinis ke saya) yang selalu cari sekutu untuk menghancurkannya. dan kali ini, bukannya tidak mungkin kalau dia akan kembali menuduh saya ‘menghumbar-humbar’ (ini juga istilah yang selalu digunakannya. hmm, dia memang bukan manusia yang mengerti istilah ‘berbagi’) cerita ke teman-teman yang dekat dengannya.
tiba-tiba pagi tadi saya langsung geram. rupanya saya sudah jadi paranoid, di mana setiap ada orang yang bisa mencium gelagat rusaknya hubungan kami, saya selalu merasa dipojokkan dan takut. tidak peduli apakah orang itu menghibur saya, membela saya ataupun tidak, saya tetap cemas.
walaupun secara geografis saya berada jauh dari semua orang, rupanya tuduhan itu tidak juga surut-surutnya. sebab ia yakin bahwa saya punya mata-mata, intel, anak buah yang saya gerakkan untuk membinasakannya.
“kamu memang sangat berbakat untuk memimpin. di manapun kamu berada, kamu tinggal pencet bomnya, dan meledaklah Jakarta. kamu tinggal angkat telepon, hancurlah aku. kamu memang hebat!”

lalu tidak lama setelah e-mail itu saya baca, hanpdhone saya berdering…
saya tidak mau mengangkatnya… saya menangis ketakutan. seperti hilang ingatan, saya terus bertanya dalam hati, apakah saya memang curhat pada kawan lama saya itu? kapan? di mana? bagaimana ketemunya sebab kami sudah lama sekali tidak berjumpa? tidak, saya tidak pernah. sungguh, sumpah, bukan saya yang cerita! jangan bentak-bentak saya lagi, jangan memaksa saya untuk membenci diri saya lagi………

dan akhirnya hp saya berhenti berdering.
kemudian sebuah sms saya terima: “Ibu, saya coba telpon tapi tidak dijawab. saya sudah e-mail data yang ibu minta, silakan dicek. kalau ada yang kurang jelas, silakang hubungi saya di nomor kantor yayasan.”
Masya Allah…………………

malam ini saya menerima sebuah sms dari seorang sahabat: “gue lagi di dago tea house. masih inget tempat itu?”
gemes banget karena saya tidak bisa membalasnya karena sim card HP saya tidak bisa aktif di luar negara, payah! jadi dibalas di sini aja ya, Ti.

mana mungkin saya lupa kenangan bersama teman-teman sma saya di suatu malam di dago tea house. di situ saya dan teman-teman satu kelas duduk-duduk, teman-teman saya yang laki-laki membuat satu pertunjukan, mengenang satu tahun kami di kelas dua sebelas. malam itu sangat menyenangkan buat saya, berada di antara teman-teman yang begitu akrabnya dengan saya sehingga saya tidak pernah merasa cemas untuk menunjukkan pribadi saya yang sebenarnya. tidak perlu khawatir untuk bicara apa adanya, walau ada yang sampai berantem-berantem urusan nelpon orangtua. tidak perlu menyembunyikan rasa ingin tahu dan kamipun membahas seks hingga pagi. that’s friendship, Ti. mana bisa saya lupa!
dan betapa bersyukurnya saya, sudah lebih dari sepuluh tahun jalan-jalan ke bandung itu berlalu, begitu juga masa sma saya berakhir, tetapi persahabatan itu masih terus kekal.
thanks ya Ti udah ngingetin saya betapa menyenangkannya hidup yang saya jalani ini!

Pink

October 14, 2007

dari kecil dan sampai sekarang, saya paling suka warna hijau. hijau lumut, hijau tua dan hijau seperti daun dan rumput. saya suka berada di tengah-tengah kehijauan alam dan dari kecil saya selalu minta supaya dinding kamar saya dicat warna hijau yang menyejukkan sekaligus menyegarkan. jadi seperti halnya kupu-kupu yang bukan binatang favorit saya, pink bukanlah warna yang saya gandrungi sejak lama. kalau kemudian sekang saya banyak tampil dengan ‘pink’, itu mungkin bisa-bisanya saya aja yang sok nyeleneh dan jadi suka karena terbiasa.

mula-mula saya suka kesel sama kakak saya yang modis itu, yang suka membelikan saya baju warna baby pink. dan setiap saya protes “kok pink lagi sih…” dia tidak sadar bahwa semua baju yang dibelikannya untuk saya berwarna pink; dan malah nyemprot saya balik “udah bagus dibeliin!”. mungkin juga karena itu saya pelan-pelan terbiasa pakai warna pink. lagipula saya bukan tipe orang yang pilih-pilih banget soal baju. apa yang ada aja saya pakai, dan saya paling jarang beli baju baru. maksimal saya beli t-shirt karena memang merasa paling nyaman ke mana-mana pakai t-shirt. tetapi ternyata sekarang pun satu dari dua t-shirt favorit saya berwarna hitam dengan tulisan-tulisan berwarna pink “… i may be small but i have a big fun” keluaran nike edisi airmax 360 (thanks to my ex, i love the tshirt, dear). dan mantan saya itu, juga kebawa-bawa beliin saya barang-barang yang pink, dengan alasan: “biar ga terlalu keliatan garang…” duhduh…

saya perhatikan, ramai orang yang punya persepsi (kalau tidak mau dibilang prejudice) bahwa untuk perempuan seumuran saya (hampir 30), pink adalah warna yang childish, manja, genit, feminin (bukan feminist ya), dan yah karena manja itu, dianggap tidak perkasa. sehingga saya yang seringkali tidak memperhatikan perkara-perkara konotatif begitu, tidak jarang dikomentari: “iddiiih, pink! sok imut banget sih!” (kadang becanda, tapi pastinya yang serius sinis ga sedikit juga).

mereka yang belum kenal saya, melihat saya pakai baju pink dan jam tangan pink (ini juga hadiah dari ex saya ketika kami ke shanghai, thanks… it’s so cool!) dan ditambah lagi dengan tubuh saya yang pendek, maka mereka suka menilai saya (terlalu cepat) bahwa saya adalah anak rumahan yang manis, yang suka bunga dan boneka, lagu-lagu pop ceria dan film-film drama romantis. wah, kalau mereka mau mengenal lebih jauh dan berinteraksi dengan saya lebih lama, mungkin ketauan deh banyak salahnya dugaan mereka tersebut. tapi saya tidak protes, ini semua bukan salah mereka semata, ini mungkin karena si pinky.

sementara mereka yang sudah lama mengenal saya dan memahami pribadi saya dengan baik, sebutlah teman-teman sma dan teman-teman tim saya, mereka tidak banyak komentar melihat sendal crocs saya yang pink abees, selain: “ga pantes deh lo, kaya anak baik-baik, tau ga!” (halah, emang saya bukan anak baik? yang bukan ‘anak’nya atau ‘baik’nya ya?). suatu hari saya juga pernah mendengar candaan sahabat saya (’sister’ saya di perantauan): “haha, kak nisa kalau pakai pink kesannya ramah dan imut-imut.

di satu sisi saya mau mematahkan teori yang mengeneralisasi perempuan dengan mengatakan bahwa pink adalah warna milik perempuan-perempuan manja. bukan saya sok tough, tapi pada kenyataannya ex saya sendiri bilang: “ajaib kamu suka warna pink”. misi saya ini bukan untuk menipu orang bahwa saya yang berkaos pink,crocs pink, dan jam tangan pink ini dengarnya avant-garde-jazz atau hobinya jalan-jalan sendirian, tidak ragu-ragu menyiapkan kepalan tangan kalau berada di terminal dan selalu waspada: “kalau ada yang nyolek gw di tempat-tempat ga sesuai, ga peduli siapa, gw tonjok dulu!”.

saya pakai warna pink bukan mau meyesatkan mereka, tetapi sedikit mengajarkan bahwa setiap manusia itu unik, tidak bisa dinilai hanya dari baju yang dipakainya, musik yang didengarnya, atau warna pilihannya (atau dipilihin kakaknya untuk dipakainya, thanks anyway, sis =))

pink ini juga warna terapi saya. ketika hari-hari saya sejak awal 2007 sudah black and blue, saya tidak mau melepaskan kebiasaan saya untuk pakai jam tangan pink dan mencoba untuk seceria penilaian orang terhadap warna ini. si sinis mungkin mengatakan “mencoba menutup-nutupin masalahnya, sok relaks, sok asik, sok ceria!”. hmm, bukannya ’sok’, tetapi saya memilih menggunakan kata ‘melatih diri’ untuk relaks. ah, soal sinister orang mah, itu bukan masalah saya, sebab orang-orang prejudice dan sinislah yang bermasalah mentalnya, bukan saya yang bermasalah. saya sih ketawain aja orang yang sempat bermaksud menghina saya dengan mengatakan: ‘bini ceria’ :)

kupu-kupu ini

October 12, 2007

kupu-kupu bukanlah binatang yang akrab dengan saya, atau setidaknya belum akrab karena saya memang tertarik untuk pelan-pelan mengenal jenis-jenisnya, membedakannya dari ‘moth’ yang saya belum tau juga apa bahasa indonesianya. kupu-kupu yang berasosiasi dengan bunga malah tidak pernah benar-benar menarik hati saya, sampai saya menerima sebuah e-mail dari sahabat saya yang berisi tentang kupu-kupu.

di cerita tersebut, seorang lelaki (dan aku selalu menganggapnya sebagai metafora sahabatku itu) memperhatikan sebuah kepompong yang menggantung pada sebuah batang pohon di depan rumahnya. setiap hari ia berjalan melewati pohon tersebut, hari demi hari ia selalu memperhatikan, sebab ia tidak mau terlewat menyaksikan seekor kupu-kupu yang indah keluar dari kepompong tersebut. hingga suatu hari ia melihat adanya gerakan dari dalam kepompong, iapun mendekat dan melihat bagaimana seekor kupu-kupu kecil berusaha susah payah, sangat susah, untuk keluar dari kepompongnya. terus menerus kupu-kupu itu bergerak, merobek, melepaskan diri dan keluar dari ruang sempit dan menyesakkan itu. begitu susahnya sampai lelaki itu tidak tega menyaksikan kesulitan yang dihadapi si kupu-kupu.

lelaki itu kemudian berlari masuk ke dalam rumahnya. ketika keluar, ia membawa gunting kecil yang biasa digunakan untuk membedah. “tidak mungkin aku diam saja menyaksikan kupu-kupu itu dalam kesulitan,” batinnya. pelan-pelan ia menggunting lembaran kepompong yang menyelimuti kupu-kupu tersebut dengan harapan si kupu-kupu dapat keluar dengan mudah.

hanya dengan segaris guntingan saja, terbukalah kempompong itu, dan si kupu-kupupun dapat keluar dengan mudahnya. tetapi, si lelaki terkejut melihat kupu-kupu yang tidak seperti kupu-kupu lainnya. di hadapannya bukan mahluk yang bersayap lebar dan indah, ia tidak bisa terbang. bahkan bergerak saja nyaris tidak mampu dilakukan kupu-kupu tersebut. lelaki itu panik bukan main. berhari-hari ia mengharapkan munculnya mahluk indah dari dalam kepompong, sekarang ia malah… membunuhnya?

Sedih dan panik, lelaki itu tidak menduga, niatnya untuk menolong malah justru membunuh kupu-kupu tersebut, kalaupun hidup, kupu-kupu itu tidak akan pernah dapat terbang. berusaha untuk tidak putus asa, lelaki itu hanya bisa mengembalikan si kupu-kupu ke dalam kepompong, dan menutup kepompong itu kembali dengan memberikan madu sebagai lemnya.

keesokan harinya ia melihat adanya gerakan lagi dari dalam kepompong tersebut. bukan main betapa gembiranya ia melihat si kupu-kupu bergerak dengan sepenuh tenaga, seakan-akan meronta-ronta merindukan udara bebas. akhirnya, lelaki itu menyaksikan sebuah kupu-kupu dengan sayap yang sempurna bentuk dan warnanya keluar merobek kepompongnya. ia terbang, lelaki itu mengikuti dengan matanya sambil tersenyum haru. terbang menuju langit lepas dengan mengepakkan sayapnya yang lebar, cantik dan kuat.

saat meneruskan perjalanannya, lelaki tadi teringat pada kejadian di hari sebelumnya. membantu kupu-kupu kecil itu keluar adalah suatu kesalahan. kupu-kupu itu memang secara alami harus berusaha dan berusaha ketika ia berada dalam kungkungan kepompong. usaha itu harus dilakukannya sendiri, dari dalam dan dengan penuh kesungguhan tanpa putus asa. itu adalah jalannya menuju kesempurnaan dirinya, kekuatannya, serta keindahannya.

ia tersenyum karena merasa betapa bodohnya ia menganggap kupu-kupu itu tidak mampu menyelesaikan prosesnya sehingga ia harus menolong. ia besyukur sekali dengan pelajaran yang disampaikan oleh Tuhan melalui kupu-kupu tersebut, bahwa kita semua sebenarnya adalah kupu-kupu yang cantik dan kuat. walaupun kadang dalam hidup kita masalah demi masalah membuat kita terkungkung dan dari waktu ke waktu kita berjuang sekuat tenaga untuk melewatinya. dan perjuangan itulah memang yang kita butuhkan untuk mencapai kebahagiaan, seperti ia menyaksikan kupu-kupu yang semakin tinggi dan jauh terbang bebas… sampai tidak nampak lagi olehnya.

saat saya membaca e-mail sahabat saya itu, saya tidak dapat menahankan airmata. sebab saya memang tengah dalam kondisi yang sangat buruk, hancur, dan merasa tidak mampu melewati cobaan yang demikian beratnya. namun saya disadarkan, bahwa cobaan memang harus ada dalam hidup saya, dan saya harus menggunakan segenap kekuatan saya untuk menghadapinya. hanya dengan cara berjuang secara konsisten dan resisten lah saya dapat merobekkan ‘kempompong’ saya, dan dengan penuh keyakinan saya harus mengatakan pada langit: tunggulah kehadiran saya…