dia tidak suka minum kopi, mantan suamiku itu. tidak berubah dari sejak kami bersama, maka beberapa bulan yang lalu ketika aku ketemuan dengannya di sebuah kedai kopi di dekat kantorku, iapun memilih untuk tidak memesan apa-apa.

kejadiannya sudah sekitar enam bulan yang lalu, cukup lama setelah kami resmi bercerai. kamipun berbincang-bincang sederhana. tentang pekerjaanku secara garis besar, pacar baruku secara garis besar, keluarganya secara garis besar, dan semuanya hanya garis besar basa basi belaka.

tetapi pertemuan itu tidak aku atur hanya untuk berbasa-basi. aku melakukannya untuk menjawab satu pertanyaan: “apakah aku sudah siap untuk memulai hubungan baru dengan laki-laki lain?”

maka salah satu indikator yang aku tetapkan adalah: “kalau aku bisa bersikap dan berperasaan biasa-biasa saja, tanpa sedih tanpa rindu dan tanpa marah, maka aku sudah lepas dari mantanku, dan aku siap untuk memulai hubungan baru”.

dan bersyukurlah aku.

pembicaraan yang hanya sekitar satu jam itu memantapkan aku untuk bergerak maju, meninggalkannya, dan siap membuka bab baru dalam hidupku bersama laki-laki yang luar biasa yang hingga hari ini berjalan bersamaku.

tetapi ketika kopi di cangkirku sudah dingin dan tinggal memenuhi seperempat cangkir, iapun berkata:

“waktu itu, aku pernah bilang sama kamu… kalau kamu sudah bisa memaafkanku, tolong beritahu aku…”

dan aku hanya menjawab: “ya, aku ingat. dan sampai saat ini, belum ada yang bisa kukatakan…”

ia tersenyum. aku juga. betapa aneh rasanya menjadi orang dewasa. kami dapat bercakap-cakap dengan damai, walaupun sebenarnya hati belum memaafkan.

dan sampai hari ini, belum ada yang bisa saya sampaikan kepadanya. walaupun saya sangat bahagia dan bersyukur karena Allah mengobati luka saya, menggantikan sakit dan kehancuran saya dengan pekerjaan, calon suami, sahabat dan keluarga yang luar biasa;

belum ada yang saya perlu sampaikan kepada mantan suami saya.

email untuk (mantan) suami yang saya kirimkan bulan April 2007 ketika sudah mulai serius berselingkuh

ketika untuk pertama kalinya Jibril mensuarakan “Iqra” kepada Muhammad di Gua Hira’, Muhammad merasa ragu apakah orang akan percaya bahwa dia telah mendapat wahyu, atau mereka hanya akan menganggap dirinya gila.
ketika saat Khadijah mendengar cerita sang Rasul, istri yang sangat cerdas dan rasional itupun mengatakan: Kalaupun ada di dunia ini yang menganggap kamu gila, maka aku tidak termasuk diantara mereka. aku mempercayai perkataanmu, Muhammad.

sepotong kisah itu sangat penuh inspirasi.
selama ini aku seringkali melihatmu mengambil jalan yang membingungkan. tetapi aku tidak mau dan tidak akan pernah mencoba membunuh aspirasi dan impianmu. sebaliknya, segila apapun itu, aku selalu merasa bahwa itulah makna keberadaanku untuk seorang suamiku, hanya seorang, bukan siapa-siapa.
itulah mengapa, aku merasa begitu berartinya kebersamaan kita.

selanjutnya kisah yang lain adalah ketika Rasulullah wafat, begitu banyak orang meratapinya. tetapi Umar, sahabat beliau mengingatkan sepenggal ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Muhammad adalah manusia biasa.
dan apalagi kamu, suamiku.

Betapa manusia biasanya engkau.
no one will ever love you like i do, suamiku. Aku pastikan itu

jadi jangan pernah tinggalkan aku, karena kamu akan sedih, kamu akan kehilangan begitu banyak hal yang sepatutnya bisa dicapai bersama-sama denganku

oleh karena itu,
jangan bertingkah aneh-aneh, jangan sembarangan memperlakukanku. karena itu hanya membuat kamu semakin kehilanganku, merindukanku.

sementara aku di sini masih tidak menyerah, tidak patah walau menjadi korban kejahatanmu.

bagaimana dengan kamu?
semoga kamu lekas sembuh

regards,
istrimu

(hidup memang sulit, kan?)

dari sent-item email saya di Ramadhan tahun 2007, sehari setelah saya dimaki-makin via telpon karena “cari-cari alasan untuk menelpon suami saya…pakai alasan bayar zakat segala,”…

Suamiku,

yang aku bayangkan adalah kamu pastinya sangat bangga bisa menanggapi smsku dengan begitu ketusnya,

membentakku di telpon dengan begitu angkuhnya,

dan tidak pernah menanggapi niat yang – kalau tidak baikpun, setidaknya bukan niat yang buruk – dengan cara yang sewajarnya
pasti membuatmu nampak gagah di hadapannya, sebab aku yakin kamu melakukan semua itu di hadapannya.
pasti membuatmu nampak jantan, di mana kamu bisa kejam terhadap orang lain.

pasti membuatmu nampak begitu romantisnya, menghardik istrimu di hadapan (bukan lagi) gadis yang kau pertahankan walau harus memusuhi dunia. Dunia yang sebenarnya tidak pernah memusuhimu
pasti tidak ada lagi yang menghalangkan kalian, dan kamu pasti merasa begitu perkasanya..

tapi entahlah suamiku, di mataku, kamu tidak lain adalah mahluk bingung yang tidak tahu pada apa sebetulnya kamu bersandar,

di landasan apa kamu dirikan filosofi hidup kamu,

entah suamiku…tapi kamu hanya menampakkan kelemahanmu di hadapanku.
dan aku sangat sedih dan berdosa menyaksikannya…

maafkan aku yang menyeretmu sampai pada tragedi ini semua..
semoga suatu hari kamu bisa memaafkanku, mungkin pada hari itu kamu juga berterima kasih kepadaku karena tidak bersamamu lagi.

 

hanya dengan maaf dari orang yang kita sakitilah, Allah memaafkan kita.

suamiku,
ini bukan sindiran, hanya mengungkapkan rasa yang asing ini, asing akan kamu, asing akan diriku, dan semua yang terjadi di antaranya.

Kita tidak berteman, suamiku. dan aku tidak berminat untuk berteman dengan orang yang hobi menghinakan diriku… mohon maaf, tetapi teman adalah orang yang sepatutnya membuatmu merasa berharga, bukan disanjung dan dipuja, tetapi dihargai.

kita sudah sama2 dewasa untuk memahami perbedaannya.

akhirnya aku menghentikan semua kontak, sms pun berhenti terkirim untuk kamu.

semata-mata karena aku mempertimbangkan bahwa ini adalah permintaan suami, dan aku harus mengikutinya karena tidak bertentangan dengan aqidah (tidak meng-sms suami tidak menjadikan aku kafir), dan juga aku tidak menyebabkan suamiku berbuat dosa, insya Allah (membentak istri dan menyuruhnya mengurus urusan sendiri di masa iddah)..

jadi lebih baik aku simpan niat untuk menjalankan peran sebagai istri dalam hati, di sini, jauh dari kamu.

suamiku,
sudah hampir berakhir Ramadhan tahun ini,
walau kamu bilang ini adalah Ramadhan terburuk, jangan pernah putuskan doa untuk meminta semoga tahun depan akan jauh lebih baik,
amin

salam hormat,
istrimu (suka atau tidak)

kenapa “masih”?

September 16, 2008

Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada mbak-mbak yang sudah merespon postingan saya terakhir tentang doa ‘jahat’ yang masih saya minta…
Tulisan yang terlalu singkat itu memang jelas-jelas menggambarkan dendam yang mungkin seharusnya sudah luntur mengingat perceraian saya pun sudah beberapa bulan berlalu.
Ya, 14 Februari 2008 memang seharusnya menjadi akhir segala urusan saya dengan mantan suami, tetapi pada kenyataannya masih ada ‘remah-remah’ sisa hubungan kami yang harus diselesaikan; dan urusan-urusan sepele ini malah tidak jarang menimbulkan geram di hati saya.

Mulanya ia berjanji di hadapan orangtuanya dan keluarga saya, ketika ia menjatuhkan talak satu siang hari itu. Ia berkata: “Segala urusan kuliah (nama saya) menjadi tanggung jawab saya. Saya akan berjanji akan membiayai urusan kuliah sampai (nama saya) selesai.”
Kemudian di bulan Januari 2008 ketika saya berada di negeri jiran untuk menyelesaikan kuliah saya, janji itu belum dapat dipenuhinya. Ia menelpon saya, memohon maaf karena saat itu kondisi keuangannya sangat sulit, dan saya merasa iba. Sayapun meminta izinnya untuk menjual HP saya yang dibelikan olehnya setahun yang lalu. Karena saat itu saya belum dapat kerja dan saya harus membayar sewa asrama, makan dan sebagainya biaya kehidupan sehari-hari, akhirnya Nokia 9300i yang penuh kenangan itupun saya jual kepada teman saya. Syukurlah di bulan Februari akhirnya saya dapat posisi asisten peneliti lagi. Bersyukur juga saya punya room mate; tidak jarang saya pinjam uang dia ketika tanggung bulan.
Ketika saya kembali ke tanah air di bulan Juni, saya mendengar kabar bahwa ia telah beli mobil VW Caravel (dan itu dibeli sudah beberapa bulan, tepatnya ketika ia menelopn dan mohon pengertian saya). Ckckckck… keuangan ketat, kononnya.

Kemudian masalah harta. Hmph, ini masalah yang bisa membuat manusia lebih rendah dari binatang. Di hadapan pengadilan, (katanya) dia punya janji-janji untuk mengganti sejumlah uang kepada saya, yang nominalnya terus terang tidak kecil buat pengangguran semacam saya (hehe). Uang itu adalah bagi hasil bisnis yang dijalankannya bersama saya ketika kami bersama. Walaupun saya tidak pernah hiraukan urusan uang itu, tetapi mantan saya selalu maksa: “please lah, gue tau ini tidak bisa menebus kesalahan gue, tapi mungkin bisa ngurangin sedikit rasa bersalah gue. Lagipula itu hak elo kok…” begitu katanya selalu. How generous! (ditulis dengan nada sinis).
Setelah sekian lama humbar-humbar kebaikan hatinya, suatu hari datanglah e-mail dari dia, menanyakan nomor rekening saya sebab dia mau transfer, katanya. Begitu juga mas kawin saya (yang ini memang saya harus tagih, karena itu jelas hak saya. Kalau saya mendiamkan orang berhutang, saya ikutan dihitung dzalim), dia akan ganti gelang emas itu dengan uang, katanya. Walaupun saya sangat kecewa mendengarnya dan berkata: “Kamu tahu, ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa digantikan dengan uang. Selain ‘maaf’, mas kawin juga masuk dalam list saya…” tapi ya sudahlah, mengingat kondisi saya yang juga perlu duit (hiks, susah ya cari kerja di Indonesia ~^^) saya kasih saja nomor rekening saya ke dia.

Setelah nomor rekening sudah saya kasih, dan secara manusiawi hati saya mulai ngarep2 dapet rejeki,… seminggu…dua minggu… tidak ada kabar dari dia sama sekali. Pengennya saya sms atau telpon dia dengan style penagih utang yang lemah-lembut: “kalau sudah transfer kabarin ya, biar saya cek…” . tapi mustahil dia mau dan bisa angkat telpon dari saya, karena sekarang HPnya ada di tangan badan sensornya yang tidak lain adalah pacarnya.

Akhirnya dia telpon saya suatu pagi, minta maaf (lagi) karena belum bisa transfer karena belum ada uang dan masih banyak hutang ke orang lain, katanya. Jadi dia minta kemurahan hati saya untuk memberikan kesempatan kepadanya untuk mendahulukan keperluan bisnisnya. Seperti biasa actingnya sebagai cowok baik-baik yang tulus dan kesusahan sukses menipu saya lagi. “Tapi pasti aku bayar…” begitu katanya dengan menghela nafas panjang.
Terus terang saya penasaran raut mukanya ketika dia berakting begitu.

Esokannya saya bertemu dengan salah satu ‘significant other’ mantan saya ini. Info dari dia sangat akurat pastinya. Dan ketika saya menghabiskan lebih dari 2 jam bersama perempuan hitam manis ini, dengan emosi dia bercerita kalau hidup mantan saya beserta pacarnya itu sangat bermegah-megahan. “Gila ya, gue selama belom kerja ngga akan berani pakai tas ‘Guy Laroche’ (maap kalau salah ngeja, maklum saya ngga familiar dengan benda-benda tersebut) atau LV kaya tu anak (18 tahun lulusan SMA dan ‘masih’ menunggu nasib tahun depan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negri di Bandung… sebab tahun ini tidak lolos). Harganya kan ngga sejutaan, lima jutaan! Belom lagi di mobil VW nih gw liat, make-upnya komplit dan merk-merknya luar negri semua dah!”

Saya sirik? Insya Allah tidak. Selama bersama mantan saya atau bersama siapapun termasuk saat tidak bersama siapa-siapa, perkara-perkara fancy stuff tidak pernah mampir di kepala saya. Syukurlah saya tidak bermimpi untuk pakai barang-barang mahal dan naik mobil mewah. Saya malah seringnya malu karena seringkali barang yang melekat di badan saya adalah pemberian orang lain. Bahkan saya pernah marah ketika dia kasih jam tangan, karena saat itu saya yang masih kuliah belum bisa beli sendiri. Yah, saya termasuk ‘orang miskin yang sombong’ kali ya ~^^.
Tidak pernah saya membahas make-up, tas-tas branded, dan lain-lain barang2 lantai dasar Plaza Senayan. Yang ada saya berusaha menularkan filosofi alm.ibu saya kepadanya: “Yang hebat tuh, kalau orang sudah kaya raya tapi masih bisa hidup sederhana; soalnya kalau orang kaya hidupnya mewah mah biasa…”

Jadi bukan iri, bukan dengki, tapi saya memang marah atas tipu dayanya. “Tidak punya uang, belum bisa mengembalikan mas kawin, mohon pengertiannya…”
Duh duh, hati-hati mas, jangan menipu daya hak orang lain! Lebih baik jual aja jam tangan Tag Heuer-nya untuk bayar hutang daripada ngantongin E90, sepatu jutaan rupiah, mobil mentereng dan pacar bermerk tapi hak orang lain dianiaya. Toh mas kawin saya harganya ngga beda jauh dari tas pacarnya situ kok.

masih…

August 19, 2008

doa saya masih sama,

Ya Tuhanku,

jangan pisahkan mereka di muka dunia ini.

biarkan mereka bersama sampai akhir hayat mereka

namun

jangan berikan mereka kebahagiaan sedetikpun…

teman-teman,

akhirnya kami bercerai secara resmi pada 14 Februari 2008.

selepas maghrib mantan suami saya menelpon. karena saat itu kami tidak berada di kota yang sama, maka saya tidak hadir persidangan sama sekali (ada 3 kali persidangan, menurut surat panggilan pengadilan yang sampai ke rumah saya).

dan 15 februari 2008 saya ‘curhat’ dan… baca aja deh =P

14 february was yesterday.

i walked from faculty to my dorm – was yesterday afternoon.

i chanted the requiem – was yesterday morning.

i asked God to stop the time, or reverse it instead of moving it forward

- was yesterday evening.

i said i was so sorry for every single little thing that i made wrong

- was yesterday evening.

i took twice as much cough syrup than i should so that i could sleep

- was yesterday midnight.

i didn’t resist my tongue saying how much i missed the voice, the laugh, the jokes, the conversation, everything – was yesterday evening.

i said thankyou with all my heart and soul – was yesterday morning afternoon evening and night.

i asked God to take good care of me – was yesterday before i closed my eyes.

now, you may go …

so long my beloved best friend

and He really does taking good care of me, terima kasih doanya teman-teman =)

kalah

November 6, 2007

sudah pernah saya ceritakan tentang perempuan itu? dan perempuan-perempuan yang bersamanya sebelum saya?

pagi ini saya melihat persamaan di antara mereka yang begitu nyata, banyak, dan… mulai dari mana? dari ujung rambut ke ujung kaki?
ya, secara fisik mereka berdua sama-sama mempunyai tubuh yang proporsional, rambut yang tergerai panjang, pakaian yang modis-modis dan sexy, pesta-pesta yang heboh… mereka adalah cerminan perempuan.. maksudnya, wanita-wanita masa kini yang westernized a.k.a modern, cantik-cantik, seru, heboh, dan menarik perhatian banyak laki-laki. di foto-foto mereka, berbagai gaya mereka beraksi, dan sangat percaya diri seakan mereka sadar betul betapa menariknya penampilan fisik mereka.
dan… salah besar kalau menganggap mereka tidak berotak. keliru, mereka adalah orang-orang cerdas yang berprestasi di bidang akademik.
ya, tipe orang yang membuat saya berfikir “kepada sebagian orang, Tuhan memberikan segalanya” .. =Psaya yang tidak pernah peduli pada bentuk tubuh dan rambut saya, dan hampir tidak pernah benar-benar merasa cantik ataupun tidak cantik… tiba-tiba merasa menemukan salah satu jawaban yang tepat dan rasional yang mendukung penuh semua kehancuran rumah tangga kami.
kemudian saya juga membuka-buka file foto2 saya, yang … haha, jauh banget sama mereka.

saya yang sebelumnya merasa nyaman dan tidak ada masalah dengan tubuh dan isi kepala saya, tiba-tiba merasa benci melihat pantulan wajah dan tubuh saya di cermin.
setelah merasa sedih karena terlalu jauh dan sangat sangat jauh dari mereka (dan tidak mau seperti mereka juga), saya beralih kepada amarah kepada mantan suami.
“kalau sudah tau seleranya seperti itu, kenapa pacaran sama saya tiga tahun dan menikahi saya sih?!”
itu bukan pertanyaan kok, jadi tidak usah kamu jawab ya, nyet :)

mantan suami saya adalah seseorang yang sangat memperhatikan desain.
barang-barangnya selalu kelas satu. handphonenya adalah Nokia Siroco yang casingnya dari titanium dan fungsinya tidak terlalu baik dibandingkan harganya yang – buat saya – berlebihan.
tapi dia bilang itu sebagai bentuk penghargaan terharap disain.

harga sepedanya bisa mencapai puluhan juta. dengan segala kerja keras dan pengorbanan, dia membangun sepedanya sangat bagus dan mewah sekali.
tidak jarang barang-barangnya dia gadai dan jual demi membangun sepeda ‘raja’nya.
dahulu saya hanya kagum pada kegigihannya. suami saya bukan orang berlimpah harta, saya tahu persis keteguhan dan kesabaran dia memperoleh barang-barang mewah itu.
tetapi saya harusnya sadar, apa yang dia mau adalah selalu bentuk, desain, dan produk-produk numero uno. dan sebagai manusia, saya jelas-jelas tidak didisain cukup elegan seperti siroco untuk handphone atau mercedes untuk mobil.
saya terlalu pendek untuk ukuran manusia termasuk manusia asia, saya tidak suka rambut panjang2 apalagi kuku, karena dari kecil olahraga jadi tidak biasa memanjangkan kuku. saya gemuk, dan kulit saya tidak terlalu mulus. bahkan belang-belang terbakar matahari.
dan bodohnya, saya pikir dia mencintai saya sehingga saya luput dari kesadaran bahwa dia selalu mau disain yang terbaik.

saya ingat, dulu dia cerita bahwa VW antiknya dia jual, setelah mengalami tabrakan. sebenarnya VW itu sudah diperbaiki dan mulus, tapi dia bilang: “saya tau tidak 100% mulus kembali, hanya 99% dan saya tidak mau bertoleransi.”

Ouggghhh…kenapa saya berfikir saya pantas dengannya? kenapa saya tidak pernah berfikir bahwa begitu ada desain yang lebih baik, pasti saya disingkirkannya?!!

selain itu, saya bukanlah perempuan yang populer karena kecantikannya ataupun kesupelannya.
saya bukan social person yang selalu dielu-elukan kehadirannya di pesta-pesta. saya tidak suka pesta. saya bukan party animal yang bisa membuat suasana pesta lebih heboh. saya adalah orang yang rata-rata saja, dan tidak pernah mengeluh karenanya, sampai ketika saya sadar, bahwa mantan suami saya itu mengingatkan betapa banyak kekurangan diri saya dalam hal fisik. betapa saya mengalami kekalahan yang jauuh dan sangat memalukan.
ya, saya memang kalah. dan kalau ukurannya melulu fisik, saya memang tidak berminat untuk perang dan menang. percayalah, sekarang, saya hanya ingin mencintai dan nyaman dengan diri saya sendiri.

berikut ini adalah surat yang saya kirimkan ke ’suami’ saya (yang masih tidak jelas antara talak atau tidak, waktu itu)
sebenarnya, saya kurang suka pada curhat ini, karena saya nampak lelah, menyerah, dan membiarkannya pergi begitu saja…

“semalam aku bermimpi
lagi, bermimpi yang nampak begitu nyata
sampai ku menangis dibuatnya
sampai tebangun dengan mata terbelalak dan dada yang berdegup kencang
semalam aku bermimpi kamu lagi

semalam kamu baru pulang dari jogja
dan kita tengah bercakap-cakap dalam kamar di ciputat
disaksikan raja-raja jazz di dinding dindingnya
disaksikan penulis-penulis mimpi di rak bukunya
dan kamu tidak bermaksud lagi, pastinya
tapi sakit datang lagi dan menusuk hati, lagi
ya, kamu tidak bermaksud begitu, lagi-lagi tentunya

semalam kamu menganggap aku sebagai sahabat
yang bisa kamu ceritakan apa saja
tentang kesedihan dan kegembiraanmu bersama dia
tentang kehidupanmu yang semakin seru setelah meninggalkanku
semalam kamu lagi-lagi menganggap aku teman kamu
yang tidak punya rasa cemburu karena begitu rindu
yang tidak punya rasa sedih karena begitu terbuang

semalam kamu terlalu nyaman dengan aku
bercerita tentang rindumu padanya
tentang apa yang akan kamu lakukan deminya
kamu tidak melihat wajahku yang beku
sementara mataku merah berapi
sebab semalam kamu merasa nyaman berbagi denganku

semalam amarahku memuncak
cemburuku kembali meledak
kesedihanku kembali tak terlawankan
ketika kamu mengatakan:
nanti kita mampir di rumah … (dia menyebut nama perempuan simpanannya) ya, aku mau ngasih oleh-oleh ke dia dari jogja. tapi kamu di mobil aja aku parkir agak jauh..

dan kamu tertawa, dan kamu mengharapkan aku membalas tawamu
tapi tidak, aku tengah melayangkan tanganku ke pipimu

semalam aku hampir saja melakukan hal yang sama lagi
tetapi terhenti lembut di pipimu, sebab aku melarang jari-jariku amuk, lagi
dan airmata jatuh dari mataku yang menatap jauh ke dalam dirimu
mencari-cari kesadaran di dalamnya, kesadaranmu tentang aku
aku menangis, malu, sedih, dan menyesal
aku lari dari kamar itu, meninggalkanmu yang telah lebih dulu meninggalkanku
ya, aku memang selalu terlambat dibandingkan kamu, suamiku

semalam itu mungkin pertanda
jawab diantara doa kita berdua
jawab diantara begitu banyak tanya
jawab diantara begitu banyak jawab
bahwa …
mungkin kalau kita tetap terus bersama,
aku hanya akan terus menjadi durjana

walau susah suamiku,
walau sedih mengingat rasa yang masih ada,
kita sudah pada hujungnya…”

paranoid

October 23, 2007

sambil menyeruput cangkir kopi panas pagi-pagi, saya membuka e-mail. sebuah surat datang dari kawan lama saya. isinya tidak panjang, namun ia menuliskan begitu banyak kata kunci yang membawa saya kepada masa lalu yang selalu menjadi kenangan indah. kawan saya yang memang akrab dengan keluarga saya, termasuk dengan almarhum papa dan almarhumah mama saya, bertestimonial tentang orangtua saya.

katanya: “saya ingat mama kamu yang dosen itu, selalu setia mengajarkan anak-anaknya untuk mandiri, sampai akhirnya kamu benar-benar bisa sendiri…”
kawan saya itu, bukanlah laki-laki yang suka bernasehat dan teman di kala duka. sebaliknya, ia adalah teman ‘keceriaan’ saya, sehingga ucapannya terasa begitu melankolis dan mengejutkan, sekaligus mencurigakan.
memang, saya yang tengah sensitif, merasa curiga…adakah ia tahu masalah yang tengah (ah, seandainya saya bisa menggunakan kata ‘telah’ dan bukannya ‘tengah’) saya hadapi.

mula-mula saya merasa terharu membaca e-mail darinya. saya merasa mempunyai kawan yang begitu baiknya berusaha menghibur saya dan memberikan dorongan semangat. tapi tentu perasaan itu hanya sekejap saja sebab langsung tergantikan dengan: dari mana dia tau? bagaimana dia tau? dan bagaimana reaksi mantan suami saya kalau dia tau bahwa teman saya itu tau?
mood saya langsung drop mengingat akan ada lagi telpon berdering dan langsung membentak-bentak saya dengan tuduhan pencemaran nama baiknya dan hujatan atas ‘politik luar negri’ saya (istilah dia yang selalu disampaikan dengan sinis ke saya) yang selalu cari sekutu untuk menghancurkannya. dan kali ini, bukannya tidak mungkin kalau dia akan kembali menuduh saya ‘menghumbar-humbar’ (ini juga istilah yang selalu digunakannya. hmm, dia memang bukan manusia yang mengerti istilah ‘berbagi’) cerita ke teman-teman yang dekat dengannya.
tiba-tiba pagi tadi saya langsung geram. rupanya saya sudah jadi paranoid, di mana setiap ada orang yang bisa mencium gelagat rusaknya hubungan kami, saya selalu merasa dipojokkan dan takut. tidak peduli apakah orang itu menghibur saya, membela saya ataupun tidak, saya tetap cemas.
walaupun secara geografis saya berada jauh dari semua orang, rupanya tuduhan itu tidak juga surut-surutnya. sebab ia yakin bahwa saya punya mata-mata, intel, anak buah yang saya gerakkan untuk membinasakannya.
“kamu memang sangat berbakat untuk memimpin. di manapun kamu berada, kamu tinggal pencet bomnya, dan meledaklah Jakarta. kamu tinggal angkat telepon, hancurlah aku. kamu memang hebat!”

lalu tidak lama setelah e-mail itu saya baca, hanpdhone saya berdering…
saya tidak mau mengangkatnya… saya menangis ketakutan. seperti hilang ingatan, saya terus bertanya dalam hati, apakah saya memang curhat pada kawan lama saya itu? kapan? di mana? bagaimana ketemunya sebab kami sudah lama sekali tidak berjumpa? tidak, saya tidak pernah. sungguh, sumpah, bukan saya yang cerita! jangan bentak-bentak saya lagi, jangan memaksa saya untuk membenci diri saya lagi………

dan akhirnya hp saya berhenti berdering.
kemudian sebuah sms saya terima: “Ibu, saya coba telpon tapi tidak dijawab. saya sudah e-mail data yang ibu minta, silakan dicek. kalau ada yang kurang jelas, silakang hubungi saya di nomor kantor yayasan.”
Masya Allah…………………

cinta… ?

October 12, 2007

beberapa bulan yang lalu sesaat sebelum menjatuhkan talak, mantan suami saya berkata: “aku mencintainya, tidak bolehkah hidupku yang sekali ini kulalui dengan orang yang aku cintai?”
katanya lagi: “aku tahu, dibandingkan dengan kamu, dia memang masih jauh, tidak matang,belum peka dan kritis jalan fikirannya. tapi inilah mungkin yang dinamakan ‘cinta’. sesuatu yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan dengan logika.”
begitulah katanya, romantis dan putis, dia berubah 180 dejat dari orang yang ’plainly logic’ dan bertanggung jawab, menjadi orang yang ’liberal’ dan bisa-bisanya mengambil keputusan mengatasnamakan…cinta? apa iya, cinta? bukan nafsu atau ego sajakah itu? entahlah, sebab pengalaman saya dengannya, waktu itu kami butuh waktu berbulan-bulan untuk menyadari dan akhirnya mengakui rasa cinta satu sama lain. dan ia baru saja mengenal perempuan ini, dan kononnya sudah sangat jatuh cinta. yah, bisa-bisa aja sih…

tanpa berfikir lagi, dengan dorongan ‘cinta’ itu, dia memutuskan untuk melakukan segalanya demi ‘cinta’, termasuk meninggalkan istrinya.
bukannya menangis menanggapi omongannya, sore itu di cafe kecil di pinggir jakarta saya malah mengeluarkan notebook dan pulpen yang selalu saya bawa . saya menuliskan “perasaan” besar-besar dan melingkarinya. dan di lingkaran lain yang terpisah saya tulis “perbuatan”. kertas dan pulpen memang banyak membantu saya mengendalikan emosi =)
“jangan tertukar, antara perasaan dan perbuatan. cinta adalah perasaan,” begitulah saya memulai ‘pelajaran’ sore itu seperti yang sudah biasa saya lakukan di depan murid-murid saya. “perasaan mungkin terlahir  tanpa permintaan dan kehendak kamu, sehingga kamu tidak bisa disalahkan apabila memilikinya. dia bebas nilai, tidak salah dan tidak benar juga. kamu tidak bisa menyalahkan orang karena ia menyukai atau tidak menyukai sesuatu.”
“sementara yang ini,” saya meneruskan sambil menunjukkan pulpen ke ‘perbuatan’, “adalah hal yang harus kamu pertanggung jawabkan. di sinilah letak salah/benar. sikap dan perbuatan lah yang menentukan kualitas manusia. bukan perasaanya. mungkin saja Queen Elizabeth benci dengan kelakuan mendiang Lady Di, tapi begitu dia melihat ekspektasi rakyat bahkan dunia, dia tidak bisa lagi bergerak sesuai perasaannya.”

pause. saya meneguk kopi yang tinggal seperempat mug. saya biarkan dia befikir satu menit sebelum melanjutkan: “jadi kalau kamu bicara soal benar dan salah, terlepas dari saya adalah istri kamu, maka kamu salah. bukan karena kamu memiliki rasa cinta pada orang lain, tetapi karena kamu melepaskan tanggung jawab kamu, karena kamu berselingkuh dan meninggalkan istrimu.”

“Aku orang merdeka, aku orang bebas, kenapa saya tidak boleh memilih berdasarkan hati? kamu tau bahwa cari duitpun aku memilih pekerjaan yang aku sukai, kenapa tidak dengan kehidupan sosialku?”

saya terdiam, ada rasa tidak percaya pada kedangkalan ide manusia yang duduk di hadapan saya senja itu. “seperti saya bilang, kamu tidak dalam kondisi memilih, tau?” ujar saya pelan-pelan seolah-olah berbicara dengan anak belasan tahun yang meledak-ledak dan irasional. “masa kamu memilih sudah lewat, yaitu sebelum kamu bersumpah atas nama Allah di hadapan saksi dan penghulu. dan sekarang adalah saatnya kamu bertanggung jawab menanggung segala konsekuensi dari pilihanmu waktu itu. sekaranglah saatnya kamu ‘deal’ dengan apa yang kamu miliki, yaitu aku. di mana kalau aku punya kekurangan, kesalahan, maka bantulah aku memperbaiki semua itu. begitu juga aku ke kamu. lari dan meninggalkan apa yang sudah kamu miliki tanpa berusaha memperbaikinya,… aku tidak yakin itu adalah suatu perbuatan yang bisa dinilai benar, suamiku. kamu telah berselingkuh, dan kalau ada tekad untuk mengakhirinya dan kembali bersamaku, aku siap. aku siap menempuh segala konsekuensi dari pernikahan. aku tidak main-main ketika bersumpah di pagi hari itu, di hadapan Allah dan keluarga. pernikahanku adalah hidup dan masa depanku. maka aku tidak akan lepaskan begitu saja.”

“Tapi, apakah sehat hubungan kita apabila aku tidak lagi menyayangimu karena aku sayang padanya?”

“Perasaan, itu bukan kamu yang kendalikan. Allah Maha Membulak-balikkan hati manusia. berdoa dan memintalah agar rasa sayangmu tumbuh pada-Nya dan pada istrimu, mintalah restu-Nya agar kita bisa terus amanah menjalankan pernikahan ini. Percayalah, pasti susah, tapi kita pasti bisa. semua sekarang tergantung pada tekad kamu, pada komitmen dan kesungguhan kamu untuk meneruskan pernikahan ini. Mau?”

giliran dia yang terdiam. dan handphonenya terus aktif merekam pembicaraan kami. dia merekamnya dengan tujuan untuk didengarkan lagi kemudian, katanya. supaya dia bisa merujuknya kembali saat dia berfikir dan mempertimbangkan ulang keputusannya untuk menceraikan saya demi cintanya itu.

tiga bulan hampir berlalu, masa iddah belum berakhir, artinya kami bisa rujuk kembali. akan tetapi, kemarin pagi dia baru saja melepon saya lewat sambungan internasional, katanya: “barang-barang kamu di sini (di rumahnya) sudah aku pisahin. tinggal dibawa ke rumah kamu…”

sepertinya dia sudah berfikir balik seperti apa yang dikatakannya di sore hingga senja itu, di suatu kafe kecil di pinggiran jakarta.