the brave one

October 12, 2007

Dari mana datangnya keberanian? Adakah ia datang dari keyakinan seperti semboyan ‘berani karena benar’? Ataukah ia memang diciptakan dari kebiasaan seperti sudah biasa hidup di daerah rawan sehingga menjadi berani menghadapi malam? Boleh jadi demikian. Tapi Erica Bain (dimainkan oleh Jodie Foster) menambah satu dorongan yang menyebabkan manusia melahirkan keberanian dalam dirinya, yaitu karena kecemasan dan ketakutan.
Pistol. Itulah terapinya untuk tampil percaya diri di “kota metropolis teraman di dunia” (sindirannya untuk NYC). Mula-mula ia beli pistol hanya untuk proteksi diri yang dihantui trauma atas penganiayaan yang dialaminya dan menyebabkan calon suaminya mati. Entah memang nahas atau alam The Big Apple memang demikian, ia terus menerus ‘kebetulan’ berada pada kondisi yang seakan-akan memaksanya untuk menggunakan pistol.
Terapinya melawan rasa takut lebih dari berhasil. Pistol itu akhirnya membuat dirinya merasa kuat, berani, dan secara tidak sengaja, membuatnya pula merasa berhak untuk memelihara dendam dalam batinnya. Dendam yang membabi buta, yang membuatnya tidak lagi menghindari bahaya melainkan dia memilih untuk melawan. Dan Ericapun ketagihan atas kuasa yang dimiliki senjatanya untuk membunuh kriminal, termasuk para pelaku kejahatan yang tidak ada hubungannya dengan kasus yang menimpa dirinya sekalipun.
Ada debat moral, antara aksi memberantas kriminal (yang kebanyakan sulit dilakukan lewat jalur hukum formal); dengan kebiadaban membunuh orang dengan darah dingin. Tetapi Erica berargumen: “There should be someone who do the job for you” (and you can’t really say if you would refuse the help). Kalau kata teman saya, mungkin itu perpanjangan ‘tangan’ Tuhan, yang menolong kita, walau kita tidak minta dan kita sedikit protes dengan caranya. Dan kata teman saya itu lagi, ya berterima kasih aja lah, toh kalau dia salah, bukan tanggung jawab kamu. Kan kamu memang tidak pernah minta bantuannya. Boleh juga tuh, sepertinya itu memang yang difikirkan si detektif (diperankan oleh Terrence Howard). Serupa dengan kasus yang menimpa saya, dituduh mencemarkan nama baik seseorang yang memang telah menghinakan dirinya sendiri (namun berusaha menutupinya).

Saya yang menjadi korban (sebenarnya saya menolak menganggap saya demikian) penghianatannya, memang paling empuk untuk dijadikan sasaran tuduhannya sebagai penghumbar keburukan dia. Buat saya, tuduhan tersebut sangat menyinggung dan merendahkan. Dorongan untuk membalas dendam memang kuat, tetapi itulah perang yang saya jalani setiap hari, bukan melawannya, bukan menghancurkan hidupnya seperti yang ia kerap tuduhkan. melawan semua dorongan maksiat dan jahat yang ditimbulkan oleh sakit hati dan amarah memerlukan energi positif yang besar, maka mana mau saya menimbulkan energi negatif lagi. saya tidak mau lagi sakit hati, itu yang saya mohonkan pada Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Dengki, cemburu, amarah, kecewa,… adalah penyakit hati yang dapat membuat orang menjadi ‘berani’, seperti yang dialami Erica. Memang saya mau menjadi berani dan kuat, tetapi tidak bingung dan penuh dendam sepertinya.

Tuhan sudah mengatakan bahwa semua hukuman adalah hak-Nya, bukan hak manusia yang rendah dibandingkan kekuatan-Nya. saya pun mempercayai-Nya, yakin atas ke-Maha Adil-annya. maka ketika ada seseorang yang yang membuka aib orang yang mendzalimi saya tersebut, mengapa ia tergesa-gesa menuduh saya yang merancangnya? mengapa ia tidak bisa mengerti bahwa ‘Tangan Tuhan’ itu bekerja tanpa seorang manusiapun diminta pendapatnya? Tuhan bertindak tanpa perlu minta persetujuan saya, Ia ‘masuk’ dalam diri orang lain, dan orang tersebut tanpa pula meminta izin saya bertindak seperti Erica yang ‘do the job for you’, tanpa minta izin saya, tanpa minta pendapat saya. dengan caranya sendiri, yang mungkin si penuduh itu sangat keberatan. But why am i to blame?