belum ada yang bisa kusampaikan,…
June 9, 2009
dia tidak suka minum kopi, mantan suamiku itu. tidak berubah dari sejak kami bersama, maka beberapa bulan yang lalu ketika aku ketemuan dengannya di sebuah kedai kopi di dekat kantorku, iapun memilih untuk tidak memesan apa-apa.
kejadiannya sudah sekitar enam bulan yang lalu, cukup lama setelah kami resmi bercerai. kamipun berbincang-bincang sederhana. tentang pekerjaanku secara garis besar, pacar baruku secara garis besar, keluarganya secara garis besar, dan semuanya hanya garis besar basa basi belaka.
tetapi pertemuan itu tidak aku atur hanya untuk berbasa-basi. aku melakukannya untuk menjawab satu pertanyaan: “apakah aku sudah siap untuk memulai hubungan baru dengan laki-laki lain?”
maka salah satu indikator yang aku tetapkan adalah: “kalau aku bisa bersikap dan berperasaan biasa-biasa saja, tanpa sedih tanpa rindu dan tanpa marah, maka aku sudah lepas dari mantanku, dan aku siap untuk memulai hubungan baru”.
dan bersyukurlah aku.
pembicaraan yang hanya sekitar satu jam itu memantapkan aku untuk bergerak maju, meninggalkannya, dan siap membuka bab baru dalam hidupku bersama laki-laki yang luar biasa yang hingga hari ini berjalan bersamaku.
tetapi ketika kopi di cangkirku sudah dingin dan tinggal memenuhi seperempat cangkir, iapun berkata:
“waktu itu, aku pernah bilang sama kamu… kalau kamu sudah bisa memaafkanku, tolong beritahu aku…”
dan aku hanya menjawab: “ya, aku ingat. dan sampai saat ini, belum ada yang bisa kukatakan…”
ia tersenyum. aku juga. betapa aneh rasanya menjadi orang dewasa. kami dapat bercakap-cakap dengan damai, walaupun sebenarnya hati belum memaafkan.
dan sampai hari ini, belum ada yang bisa saya sampaikan kepadanya. walaupun saya sangat bahagia dan bersyukur karena Allah mengobati luka saya, menggantikan sakit dan kehancuran saya dengan pekerjaan, calon suami, sahabat dan keluarga yang luar biasa;
belum ada yang saya perlu sampaikan kepada mantan suami saya.