dari sent-item email saya di Ramadhan tahun 2007, sehari setelah saya dimaki-makin via telpon karena “cari-cari alasan untuk menelpon suami saya…pakai alasan bayar zakat segala,”…

Suamiku,

yang aku bayangkan adalah kamu pastinya sangat bangga bisa menanggapi smsku dengan begitu ketusnya,

membentakku di telpon dengan begitu angkuhnya,

dan tidak pernah menanggapi niat yang – kalau tidak baikpun, setidaknya bukan niat yang buruk – dengan cara yang sewajarnya
pasti membuatmu nampak gagah di hadapannya, sebab aku yakin kamu melakukan semua itu di hadapannya.
pasti membuatmu nampak jantan, di mana kamu bisa kejam terhadap orang lain.

pasti membuatmu nampak begitu romantisnya, menghardik istrimu di hadapan (bukan lagi) gadis yang kau pertahankan walau harus memusuhi dunia. Dunia yang sebenarnya tidak pernah memusuhimu
pasti tidak ada lagi yang menghalangkan kalian, dan kamu pasti merasa begitu perkasanya..

tapi entahlah suamiku, di mataku, kamu tidak lain adalah mahluk bingung yang tidak tahu pada apa sebetulnya kamu bersandar,

di landasan apa kamu dirikan filosofi hidup kamu,

entah suamiku…tapi kamu hanya menampakkan kelemahanmu di hadapanku.
dan aku sangat sedih dan berdosa menyaksikannya…

maafkan aku yang menyeretmu sampai pada tragedi ini semua..
semoga suatu hari kamu bisa memaafkanku, mungkin pada hari itu kamu juga berterima kasih kepadaku karena tidak bersamamu lagi.

 

hanya dengan maaf dari orang yang kita sakitilah, Allah memaafkan kita.

suamiku,
ini bukan sindiran, hanya mengungkapkan rasa yang asing ini, asing akan kamu, asing akan diriku, dan semua yang terjadi di antaranya.

Kita tidak berteman, suamiku. dan aku tidak berminat untuk berteman dengan orang yang hobi menghinakan diriku… mohon maaf, tetapi teman adalah orang yang sepatutnya membuatmu merasa berharga, bukan disanjung dan dipuja, tetapi dihargai.

kita sudah sama2 dewasa untuk memahami perbedaannya.

akhirnya aku menghentikan semua kontak, sms pun berhenti terkirim untuk kamu.

semata-mata karena aku mempertimbangkan bahwa ini adalah permintaan suami, dan aku harus mengikutinya karena tidak bertentangan dengan aqidah (tidak meng-sms suami tidak menjadikan aku kafir), dan juga aku tidak menyebabkan suamiku berbuat dosa, insya Allah (membentak istri dan menyuruhnya mengurus urusan sendiri di masa iddah)..

jadi lebih baik aku simpan niat untuk menjalankan peran sebagai istri dalam hati, di sini, jauh dari kamu.

suamiku,
sudah hampir berakhir Ramadhan tahun ini,
walau kamu bilang ini adalah Ramadhan terburuk, jangan pernah putuskan doa untuk meminta semoga tahun depan akan jauh lebih baik,
amin

salam hormat,
istrimu (suka atau tidak)

Leave a Reply