kenapa “masih”?
September 16, 2008
Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada mbak-mbak yang sudah merespon postingan saya terakhir tentang doa ‘jahat’ yang masih saya minta…
Tulisan yang terlalu singkat itu memang jelas-jelas menggambarkan dendam yang mungkin seharusnya sudah luntur mengingat perceraian saya pun sudah beberapa bulan berlalu.
Ya, 14 Februari 2008 memang seharusnya menjadi akhir segala urusan saya dengan mantan suami, tetapi pada kenyataannya masih ada ‘remah-remah’ sisa hubungan kami yang harus diselesaikan; dan urusan-urusan sepele ini malah tidak jarang menimbulkan geram di hati saya.
Mulanya ia berjanji di hadapan orangtuanya dan keluarga saya, ketika ia menjatuhkan talak satu siang hari itu. Ia berkata: “Segala urusan kuliah (nama saya) menjadi tanggung jawab saya. Saya akan berjanji akan membiayai urusan kuliah sampai (nama saya) selesai.”
Kemudian di bulan Januari 2008 ketika saya berada di negeri jiran untuk menyelesaikan kuliah saya, janji itu belum dapat dipenuhinya. Ia menelpon saya, memohon maaf karena saat itu kondisi keuangannya sangat sulit, dan saya merasa iba. Sayapun meminta izinnya untuk menjual HP saya yang dibelikan olehnya setahun yang lalu. Karena saat itu saya belum dapat kerja dan saya harus membayar sewa asrama, makan dan sebagainya biaya kehidupan sehari-hari, akhirnya Nokia 9300i yang penuh kenangan itupun saya jual kepada teman saya. Syukurlah di bulan Februari akhirnya saya dapat posisi asisten peneliti lagi. Bersyukur juga saya punya room mate; tidak jarang saya pinjam uang dia ketika tanggung bulan.
Ketika saya kembali ke tanah air di bulan Juni, saya mendengar kabar bahwa ia telah beli mobil VW Caravel (dan itu dibeli sudah beberapa bulan, tepatnya ketika ia menelopn dan mohon pengertian saya). Ckckckck… keuangan ketat, kononnya.
Kemudian masalah harta. Hmph, ini masalah yang bisa membuat manusia lebih rendah dari binatang. Di hadapan pengadilan, (katanya) dia punya janji-janji untuk mengganti sejumlah uang kepada saya, yang nominalnya terus terang tidak kecil buat pengangguran semacam saya (hehe). Uang itu adalah bagi hasil bisnis yang dijalankannya bersama saya ketika kami bersama. Walaupun saya tidak pernah hiraukan urusan uang itu, tetapi mantan saya selalu maksa: “please lah, gue tau ini tidak bisa menebus kesalahan gue, tapi mungkin bisa ngurangin sedikit rasa bersalah gue. Lagipula itu hak elo kok…” begitu katanya selalu. How generous! (ditulis dengan nada sinis).
Setelah sekian lama humbar-humbar kebaikan hatinya, suatu hari datanglah e-mail dari dia, menanyakan nomor rekening saya sebab dia mau transfer, katanya. Begitu juga mas kawin saya (yang ini memang saya harus tagih, karena itu jelas hak saya. Kalau saya mendiamkan orang berhutang, saya ikutan dihitung dzalim), dia akan ganti gelang emas itu dengan uang, katanya. Walaupun saya sangat kecewa mendengarnya dan berkata: “Kamu tahu, ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa digantikan dengan uang. Selain ‘maaf’, mas kawin juga masuk dalam list saya…” tapi ya sudahlah, mengingat kondisi saya yang juga perlu duit (hiks, susah ya cari kerja di Indonesia ~^^) saya kasih saja nomor rekening saya ke dia.
Setelah nomor rekening sudah saya kasih, dan secara manusiawi hati saya mulai ngarep2 dapet rejeki,… seminggu…dua minggu… tidak ada kabar dari dia sama sekali. Pengennya saya sms atau telpon dia dengan style penagih utang yang lemah-lembut: “kalau sudah transfer kabarin ya, biar saya cek…” . tapi mustahil dia mau dan bisa angkat telpon dari saya, karena sekarang HPnya ada di tangan badan sensornya yang tidak lain adalah pacarnya.
Akhirnya dia telpon saya suatu pagi, minta maaf (lagi) karena belum bisa transfer karena belum ada uang dan masih banyak hutang ke orang lain, katanya. Jadi dia minta kemurahan hati saya untuk memberikan kesempatan kepadanya untuk mendahulukan keperluan bisnisnya. Seperti biasa actingnya sebagai cowok baik-baik yang tulus dan kesusahan sukses menipu saya lagi. “Tapi pasti aku bayar…” begitu katanya dengan menghela nafas panjang.
Terus terang saya penasaran raut mukanya ketika dia berakting begitu.
Esokannya saya bertemu dengan salah satu ‘significant other’ mantan saya ini. Info dari dia sangat akurat pastinya. Dan ketika saya menghabiskan lebih dari 2 jam bersama perempuan hitam manis ini, dengan emosi dia bercerita kalau hidup mantan saya beserta pacarnya itu sangat bermegah-megahan. “Gila ya, gue selama belom kerja ngga akan berani pakai tas ‘Guy Laroche’ (maap kalau salah ngeja, maklum saya ngga familiar dengan benda-benda tersebut) atau LV kaya tu anak (18 tahun lulusan SMA dan ‘masih’ menunggu nasib tahun depan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negri di Bandung… sebab tahun ini tidak lolos). Harganya kan ngga sejutaan, lima jutaan! Belom lagi di mobil VW nih gw liat, make-upnya komplit dan merk-merknya luar negri semua dah!”
Saya sirik? Insya Allah tidak. Selama bersama mantan saya atau bersama siapapun termasuk saat tidak bersama siapa-siapa, perkara-perkara fancy stuff tidak pernah mampir di kepala saya. Syukurlah saya tidak bermimpi untuk pakai barang-barang mahal dan naik mobil mewah. Saya malah seringnya malu karena seringkali barang yang melekat di badan saya adalah pemberian orang lain. Bahkan saya pernah marah ketika dia kasih jam tangan, karena saat itu saya yang masih kuliah belum bisa beli sendiri. Yah, saya termasuk ‘orang miskin yang sombong’ kali ya ~^^.
Tidak pernah saya membahas make-up, tas-tas branded, dan lain-lain barang2 lantai dasar Plaza Senayan. Yang ada saya berusaha menularkan filosofi alm.ibu saya kepadanya: “Yang hebat tuh, kalau orang sudah kaya raya tapi masih bisa hidup sederhana; soalnya kalau orang kaya hidupnya mewah mah biasa…”
Jadi bukan iri, bukan dengki, tapi saya memang marah atas tipu dayanya. “Tidak punya uang, belum bisa mengembalikan mas kawin, mohon pengertiannya…”
Duh duh, hati-hati mas, jangan menipu daya hak orang lain! Lebih baik jual aja jam tangan Tag Heuer-nya untuk bayar hutang daripada ngantongin E90, sepatu jutaan rupiah, mobil mentereng dan pacar bermerk tapi hak orang lain dianiaya. Toh mas kawin saya harganya ngga beda jauh dari tas pacarnya situ kok.