dari jurnal akhir tahun 2007

September 16, 2008

Desember 2007 adalah bulan yang indah (dibandingkan bulan-bulan sebelumnya di tahun itu). Memang sepertinya hedon ya, banyak bencana di Indonesia, saya malah bilang gitu. Tapi setelah 11 bulan yang panjang dan melelahkan buat saya, akhirnya puncak acaranya satu bulan penuh saya diberi kebahagiaan.

Di 29 Desember tahun itu, mantan suami saya (yang belum resmi bercerai, tapi masa iddah sudah selesai), datang sekitar jam 11 malam ke rumah saya. Tentu saya menyambutnya dengan dingin tanpa canda dan ramah tamah seperti dulu. Pertama, saya tidak suka ada yang men-vita comply, dan ini sering dilakukannya. “Gw dah depan rumah lo nih, bukain pintu dong…”
Kedua, saya sudah berkali-kali bilang bahwa saya butuh waktu sendiri tanpa gangguannya. Dan saya tegaskan kembali bahwa waktunya bagi saya dan dia untuk kembali berteman. Kalo giliran dia yang bermasalah, kreatif lah cari teman, jangan datang dan curhat ke saya.
Malam itu dia datang ujan-ujanan. Dia tak bergeming mendengar kalimat demi kalimat yang dingin dan datar dari mulut saya, sampai akhirnya harus saya tanya: “ada apa sebenarnya datang ke sini?” nonsense lah kalo cuma mau nengok saya saja. Terlalu gampang ditebak, mantan suami saya itu. Dan sudah tidak bangga kalau tebakan saya benar, bahwa dia sedang berantem lagi dengan pacarnya.

Well, singkat kata singkat cerita (karena saya akhirnya ngobrol sampai jam 4 pagi); dia mau putus sama pacarnya, katanya. Dia sudah berkali-kali meminta putus, tapi pacarnya tidak pernah mau. Malam itu dia seperti disadarkan bahwa dia tidak seharusnya bersama perempuan itu, dan menyadari bahwa bagaimanapun juga, memutuskan untuk menceraikan saya adalah keputusan salah, dan dia sampai nangis2 mengatakan bahwa dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang dia lakukan. Puncak acaranya, dia dangdutan hehehe…(ngga mau terlalu berapi-api nih, jadi perlu pake intermezzo)… dia mengatakan bahwa dia berkeinginan untuk balik sama saya! Memang dia tidak secara eksplisit meminta saya balik, tapi saya tahu betul gaya bahasa mantan saya, dan sebaiknya, sebelum dia benar-benar meminta, I did what I had to. I told him that I didn’t want him to come into my life, ever. I told him quietly, bitterly, with tears hanging on the corner of my eyes. I told him that whatever he was doing to leave her or not to leave her, to come back to his family, to do more ibadah and whatever,… “lakukanlah demi diri kamu sendiri, bukan untuk aku, bukan untuk kembali ke aku. Tapi ke masa depan kamu…”

Then we both cried. Dia mengaku sedih sekali. Dia menyesal, dan dia bilang kalau ada jalan, dia tidak peduli seberapa lama, dia akan cari terus saya untuk tahu apakah pada saat itu saya mau menerimanya kembali. Dan saya memohon agar dia tidak pernah melakukan itu, I made him promise not to do that. “Jangan terobsesi, (nama mantan). Kalau itu masih ada di dalam kepala kamu, maka kamu tidak akan bisa bergerak maju. Kamu tidak akan bahagia. Kamu harus ikhlaskan semuanya… we are over. Memang kalau memang Allah kehendaki, bisa aja kita sama-sama lagi. Tetapi jangan pernah berharap…”

Sedih sekali, seperti kebalik keadaannya, saya yang meninggalkan dia, tidak memberinya kesempatan lagi. I love him still, I love him so much at that rainy night, as much as the time when I married him. But love is never enough. Itu yang saya pelajari, that beyond love, I still need respect, honor, and commitment.

Esokannya saya menangis-nangis seharian, kembali merasa begitu jahatnya karena tidak memberikan kesempatan kepada mantan saya, padahal dia sudah menyesal dan mau bertobat. Tapi saya benar-benar tidak bisa. Bukan hati saya yang menolak, tapi kepala saya. 1) Saya tidak boleh bias antara kasihan dengan sayang. Malam itu saya jauh lebih kasihan kepada dia yang menurut omongannya, seperti terperangkap untuk terus bersama perempuan itu; 2) Kepercayaan saya sudah habis bersama habisnya semua energi untuk memikirkan dan menyesali apa yang terjadi dalam 2007. Saya tidak percaya dia seperti halnya saya tidak percaya diri saya sendiri, apakah saya bisa mengendalikan diri ataukan saya masih akan menggunakan aksi2 fisik (memukulnya, menampar, dan melempar benda-benda), apakah saya masih melihat dirinya sebagai orang yang sama, dan… terlalu banyak traumatic moments yang harus saya sembuhkan sebelum mengikuti keinginan hati yang begitu merindukannya. 3) Saya tidak rela kalau masih harus mencurahkan semua diri saya ke masalah rumah tangga. Saya punya cita-cita yang tidak bisa saya abaikan gitu aja. Dan kembali ke dia adalah satu tindakan yang takes too much energy, time, and concentration. Maka saya tidak bisa memberikan harapan kepadanya. Tidak boleh. Sekali saya tahu saya tidak mau, jangan sok mau. Dan kalau mau, jangan sok nolak. Itu prinsip saya yang seringkali dianggap ‘murahan’ atau ‘gampangan’ sama cewek2 lain.

Tapi Allah Maha Baik. Dua hari setelah 29 desember itu, saya ke Pondok Indah Mall bersama teman-teman SMA saya. Lagi duduk2 ngopi, dari jauh saya dan temen2 saya yang juga mengenal mantan saya, melihat mantan saya itu jalan bersama pacarnya, bergandengan tangan.
Allah Maha Bijaksana, saya tidak dibiarkan terlalu lama merasa bersalah atau merasa jahat karena tidak memberikan dia kesempatan dan menerimanya kembali. Allah menunjukkan kepada saya secara kasat mata, bahwa sudah tidak perlu lagi saya percaya kepadanya. Dan saya lega banget, bersyukur karena Allah melindungi saya dari kesia-siaan bersamanya.

kenapa “masih”?

September 16, 2008

Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada mbak-mbak yang sudah merespon postingan saya terakhir tentang doa ‘jahat’ yang masih saya minta…
Tulisan yang terlalu singkat itu memang jelas-jelas menggambarkan dendam yang mungkin seharusnya sudah luntur mengingat perceraian saya pun sudah beberapa bulan berlalu.
Ya, 14 Februari 2008 memang seharusnya menjadi akhir segala urusan saya dengan mantan suami, tetapi pada kenyataannya masih ada ‘remah-remah’ sisa hubungan kami yang harus diselesaikan; dan urusan-urusan sepele ini malah tidak jarang menimbulkan geram di hati saya.

Mulanya ia berjanji di hadapan orangtuanya dan keluarga saya, ketika ia menjatuhkan talak satu siang hari itu. Ia berkata: “Segala urusan kuliah (nama saya) menjadi tanggung jawab saya. Saya akan berjanji akan membiayai urusan kuliah sampai (nama saya) selesai.”
Kemudian di bulan Januari 2008 ketika saya berada di negeri jiran untuk menyelesaikan kuliah saya, janji itu belum dapat dipenuhinya. Ia menelpon saya, memohon maaf karena saat itu kondisi keuangannya sangat sulit, dan saya merasa iba. Sayapun meminta izinnya untuk menjual HP saya yang dibelikan olehnya setahun yang lalu. Karena saat itu saya belum dapat kerja dan saya harus membayar sewa asrama, makan dan sebagainya biaya kehidupan sehari-hari, akhirnya Nokia 9300i yang penuh kenangan itupun saya jual kepada teman saya. Syukurlah di bulan Februari akhirnya saya dapat posisi asisten peneliti lagi. Bersyukur juga saya punya room mate; tidak jarang saya pinjam uang dia ketika tanggung bulan.
Ketika saya kembali ke tanah air di bulan Juni, saya mendengar kabar bahwa ia telah beli mobil VW Caravel (dan itu dibeli sudah beberapa bulan, tepatnya ketika ia menelopn dan mohon pengertian saya). Ckckckck… keuangan ketat, kononnya.

Kemudian masalah harta. Hmph, ini masalah yang bisa membuat manusia lebih rendah dari binatang. Di hadapan pengadilan, (katanya) dia punya janji-janji untuk mengganti sejumlah uang kepada saya, yang nominalnya terus terang tidak kecil buat pengangguran semacam saya (hehe). Uang itu adalah bagi hasil bisnis yang dijalankannya bersama saya ketika kami bersama. Walaupun saya tidak pernah hiraukan urusan uang itu, tetapi mantan saya selalu maksa: “please lah, gue tau ini tidak bisa menebus kesalahan gue, tapi mungkin bisa ngurangin sedikit rasa bersalah gue. Lagipula itu hak elo kok…” begitu katanya selalu. How generous! (ditulis dengan nada sinis).
Setelah sekian lama humbar-humbar kebaikan hatinya, suatu hari datanglah e-mail dari dia, menanyakan nomor rekening saya sebab dia mau transfer, katanya. Begitu juga mas kawin saya (yang ini memang saya harus tagih, karena itu jelas hak saya. Kalau saya mendiamkan orang berhutang, saya ikutan dihitung dzalim), dia akan ganti gelang emas itu dengan uang, katanya. Walaupun saya sangat kecewa mendengarnya dan berkata: “Kamu tahu, ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa digantikan dengan uang. Selain ‘maaf’, mas kawin juga masuk dalam list saya…” tapi ya sudahlah, mengingat kondisi saya yang juga perlu duit (hiks, susah ya cari kerja di Indonesia ~^^) saya kasih saja nomor rekening saya ke dia.

Setelah nomor rekening sudah saya kasih, dan secara manusiawi hati saya mulai ngarep2 dapet rejeki,… seminggu…dua minggu… tidak ada kabar dari dia sama sekali. Pengennya saya sms atau telpon dia dengan style penagih utang yang lemah-lembut: “kalau sudah transfer kabarin ya, biar saya cek…” . tapi mustahil dia mau dan bisa angkat telpon dari saya, karena sekarang HPnya ada di tangan badan sensornya yang tidak lain adalah pacarnya.

Akhirnya dia telpon saya suatu pagi, minta maaf (lagi) karena belum bisa transfer karena belum ada uang dan masih banyak hutang ke orang lain, katanya. Jadi dia minta kemurahan hati saya untuk memberikan kesempatan kepadanya untuk mendahulukan keperluan bisnisnya. Seperti biasa actingnya sebagai cowok baik-baik yang tulus dan kesusahan sukses menipu saya lagi. “Tapi pasti aku bayar…” begitu katanya dengan menghela nafas panjang.
Terus terang saya penasaran raut mukanya ketika dia berakting begitu.

Esokannya saya bertemu dengan salah satu ‘significant other’ mantan saya ini. Info dari dia sangat akurat pastinya. Dan ketika saya menghabiskan lebih dari 2 jam bersama perempuan hitam manis ini, dengan emosi dia bercerita kalau hidup mantan saya beserta pacarnya itu sangat bermegah-megahan. “Gila ya, gue selama belom kerja ngga akan berani pakai tas ‘Guy Laroche’ (maap kalau salah ngeja, maklum saya ngga familiar dengan benda-benda tersebut) atau LV kaya tu anak (18 tahun lulusan SMA dan ‘masih’ menunggu nasib tahun depan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negri di Bandung… sebab tahun ini tidak lolos). Harganya kan ngga sejutaan, lima jutaan! Belom lagi di mobil VW nih gw liat, make-upnya komplit dan merk-merknya luar negri semua dah!”

Saya sirik? Insya Allah tidak. Selama bersama mantan saya atau bersama siapapun termasuk saat tidak bersama siapa-siapa, perkara-perkara fancy stuff tidak pernah mampir di kepala saya. Syukurlah saya tidak bermimpi untuk pakai barang-barang mahal dan naik mobil mewah. Saya malah seringnya malu karena seringkali barang yang melekat di badan saya adalah pemberian orang lain. Bahkan saya pernah marah ketika dia kasih jam tangan, karena saat itu saya yang masih kuliah belum bisa beli sendiri. Yah, saya termasuk ‘orang miskin yang sombong’ kali ya ~^^.
Tidak pernah saya membahas make-up, tas-tas branded, dan lain-lain barang2 lantai dasar Plaza Senayan. Yang ada saya berusaha menularkan filosofi alm.ibu saya kepadanya: “Yang hebat tuh, kalau orang sudah kaya raya tapi masih bisa hidup sederhana; soalnya kalau orang kaya hidupnya mewah mah biasa…”

Jadi bukan iri, bukan dengki, tapi saya memang marah atas tipu dayanya. “Tidak punya uang, belum bisa mengembalikan mas kawin, mohon pengertiannya…”
Duh duh, hati-hati mas, jangan menipu daya hak orang lain! Lebih baik jual aja jam tangan Tag Heuer-nya untuk bayar hutang daripada ngantongin E90, sepatu jutaan rupiah, mobil mentereng dan pacar bermerk tapi hak orang lain dianiaya. Toh mas kawin saya harganya ngga beda jauh dari tas pacarnya situ kok.