nanggepin si shallow
June 20, 2008
suatu hari di telpon si perempuan simpanan yang ‘di atas angin’ itu protes begini sama saya: “gatau malu banget sih lo, masih sok-sok’an denger jazz, masih berbangga-bangga sepedahan. itu semua lo dapet dari mantanlo kan? pede banget sih lo. gw tau kok lo sebelum ketemu dia juga dengernya iwan fals dan musik2 pinggir jalan doang! jangan sok high class deh…!”
Memang saya tidak pernah lupa dari mana saya belajar tentang jazz. Seperti tidak pernah lupa dari mana saya belajar memotret untuk pertama kalinya. Seperti pula tidak akan saya lupa siapa yang mengajarkan saya melempar, menangkap, memukul bola sampai saya mencintai softball. Bahkan tidak pernah lupa dari ingatan saya siapa saja orang yang begitu berjasa dalam prestasi yang pernah saya raih, Alhamdulillah. Itulah ilmu, yang tidak akan habis ketika kita membaginya. Tidak akan miskin apabila kita mensedekahkannya.
Papa yang mengajarkan saya memotret pertama kali menggunakan kamera SLR. Hunting pertama kami saat itu adalah Sudirman – Thamrin – Monas di waktu malam. Walau kini papa telah tiada, saya yakin ia tidak ingin saya berhenti belajar memotret hanya karena ia tidak lagi bersama saya. Ia pasti ingin ilmu yang diberikannya ke saya bermanfaat untuk saya dan juga sekitar saya. Betul-betul saya yakin bahwa sebagai orang yang berilmu pengetahuan, maka apabila ilmunya dapat ia bagi kepada saya, dan kemudian berguna bagi saya, pastilah papa bangga dan bersyukur.
Demikian pula dengan jazz. Terima kasih karena telah memperkenalkan musik yang sangat menarik bagi saya ini. Saya ingat betul pelajaran demi pelajaran, mulai dari mendengarkan Take Five (komposisi pertama yang bisa diterima kuping saya) sampai luruh mendengar Alabama dari John Coltrane. Mulai dari kerennya Spain sampai romantisme kami dengan Koln Concert. Mulai dari membedakan suara alto sax dengan tenor sax sampai mempelajari perbedaan gaya Monk dengan Bill Evans dalam “Round Midnight” mereka masing-masing. Semua diskusi tentang LMO (Liberation Music Orchestra) yang anti pemerintah amerika sampai “Olatunji”. Ilmu, mana bisa ia berhenti di tempat? Ilmu pengetahuan tidak bisa berhenti di tempat. Seperti Henry Ford pernah berkata bahwa seorang guru tidak pernah tahu sampai mana ilmu pengetahuan yang diajarkannya berujung. Begitu juga kamu yang telah memperkenalkan saya kepada jazz, saya yakin kamu tidak menginginkan saya berhenti mendengarkannya. Apa pula alasannya kalau ternyata kamu ingin demikian? Kamu telah menjadi guru dan ilmu yang telah kamu bagi kepada saya, mengapa kamu ingin tarik kembali? Dan apa kamu pikir bisa untuk ditarik kembali?
Saya juga ingat bagaimana saya pelan-pelan belajar untuk menjadi pengendara sepeda. Bukan saya tidak bisa bersepeda, tapi sebelumnya memang tidak kepikiran untuk bersepeda dengan rute: rumah (ciputat) – pintu1 senayan (dilanjutkan dengan latihan) – rumah (kalau tidak dijemput si Uno) atau rute pagi: rumah – sektor 9 bintaro – rumah. Selain bikin badan sedikit meramping, sepeda memberi daya tarik yang sangat mudah untuk saya cintai. Pertama, nyelap-nyelip di antara kemacetan mobil dan kalau sabtu siang bisa lebih cepat naik sepeda daripada naik bis kalau ke senayan. Kedua, karena bisa keserempet angkot atau nabrak gerobak (hehehe…pengalaman pribadi tuh), dan ketiga karena punya alasan kuat untuk hujan-hujanan =P dan akhirnya bisa ngeceng-ngeceng sambil digodain tukang ojek hehehe
Tanjakan, turunan, jalan berlubang, kotor-kotoran, nyuci sepeda, ngelap sepeda sambil nyanyi-nyayi… asli saya tidak bisa berpura-pura bahwa saat ini saya tidak rindu bersepeda.
Dan itu semua memang diperkenalkannya kepada saya, seakan ia memang mempersiapkan saya untuk menjadi pengendara solo yang harus bisa ganti ban atau bongkar pasang spare part sendiri. Dan ketika saya bisa, sebagai guru pastilah ia bangga. Maka, mana mungkin kalau saya berhenti mengenjot sepeda maka ia akan senang? Atau berharap agar saya tidak bersepeda lagi?! Tak ada guru yang demikian mentalitasnya, saya yakin.
Saya menyebutnya sebagai “the wisdom of knowledge”. Di mana ilmulah harta yang tidak akan habis dan tidak akan berhenti efeknya (dan tidak dapat dikembalikan pula) walaupun segala tali telah terputus.
Saya yang menerima, pasti merasa sangat rugi apabila ilmu yang telah saya pelajari dan membawa dampak positif pada diri saya, harus saya hentikan. Sementara si suhu itu, pastilah bahagia dan bangga apabila mengetahui ilmunya dapat memberikan perubahan yang positif bagi orang yang dibaginya.
Maka, apabila kamu mempunyai ilmu, dan ilmu itu adalah ilmu berharga yang dapat kamu bagi, mana bisa kamu mengatakan: “Hei nisa, gatau diri amat sih, kenapa masih dengar jazz juga? Kenapa masih sepedahan juga? … Mengapa masih motret juga?”
***
maka saya menjawab ocehannya di telpon itu dengan tawa dan… “jiwa gw di mana-mana, di jalanan yang lo lewatin, lo akan liat gw terus. lo denger iwan fals, lo inget gw. lo liat sepeda, lo juga akan inget gw…”
Lhooo… kok udah cerai ama suami tapi si cewek nggak tau diri itu masih “meradang” juga??? apa dia ngerasa belum puas atau belum aman?
ga tau persisnya, tapi kayanya yang paling tepat sih “belum aman” kali ya…