dari hillside sepang circuit
June 20, 2008
Dari Hillside (Gate C2) Sepang Circuit siang itu di bulan Maret, saya mencoba untuk telpon mantan suami saya (blame me, tapi kami memang masih suka ngobrol2 sebenernya, secara rahasia karena dia ga mau ketauan sama pacar d/h simpenannya) dan ceritanya mau pamer suara gemuruh mesin-mesin si ceper-ceper yang super kenceng dan super keren itu. Saya mau pamer kegembiraan saya bisa berada di sana, mengalungi 40D (tiba-tiba jadi mini banget dibandingin lensa-lensa ‘gayung’ yang betebaran di sana
) dan berada di antara penggemar Formula 1.
Mantan saya ini memang dulunya partner nonton F1 lewat kaca tivi. “Sa, Kimi mesinnya jebol!” atau “Sa, Alonso keluar!” begitu yang biasanya dia teriakkan dari ruang tivi rumah saya ketika perhatian saya seringkali teralih ke isi kulkas
. Memang cerita itu sudah sangat lama sih, tapi kan kami sama-sama sempet kekeuh bahwa tidak ada istilah ‘mantan’ dalam persahabatan. Dan maknanya, kenangan-kenangan yang menyenangkan itu tidak akan pernah basi untuk saya.
Maka tadi siang juga demikian, dua orang yang saya coba telpon adalah dia dan kakak ipar saya, yang anaknya dikasih nama sama dengan nama kecil Kimi Raikonnen, Raka. Mereka adalah partner andalan saya kalau membahas F1 (Aan, kamu di mana?!). Dan dua-duanya tidak menjawab telpon saya (apes! Emang ga boleh pamer kali ya hehe). Akhirnya kedua-duanya saya sms aja (pantang menyerah! Hehe). Sms saya untuk mantan saya itu adalah begini:
“Payah ah… gw mau pamer suara gemuruh sepang circuit padahal…penting tuh!
“
Mantan saya ini memang pernah berpesan bahwa jangan telpon kalau ngga penting-penting amat. Makanya saya tegasin di sms saya, ‘pameran’ saya ini sangat penting. Excitement yang saya rasakan ketika mendengar suara raungan mesin, dan ledakan bak kembang api ketika mobil-mobil tersebut berbelok, luar biasa! Saya rasa akan sangat menarik berbagi perasaan ini kepada orang yang saya tahu betul juga penggemar F1 (ngga tau ya kalo sekarang ngakunya ga suka lagi. Tapi kalau dia bilang demikian pun mungkin akan saya acuhkan seperti ketika dia mengaku demikian tentang jazz. Tidak mungkin!).
Ketika menunggu race berikutnya dan saya duduk di atas rumput di hillside sepang circuit (ya, saya mengulang-ulang lokasi ini… tandanya saya benar-benar excited!), rupanya sms saya sudah terbalas, begini bunyinya: “Kampung lo. D&$#n (“si yang tidak boleh disebut namanya) lg tidur, “
Ha? … hahaha… mulai lagi nih… hahaha… begitulah reaksi saya. Sayangnya saya tengah bersama orang-orang yang baru kenal saya siang itu (yang cuma tahu saya penggemar Kimi dan saya mahasiswa dari Indonesia), di hillside Sepang circuit. Jadi kalau saya ketawa-ketawa baca sms, pasti teman-teman satu tim saya itu (haha) pada bingung. Akhirnya ya saya balas saja sms itu dengan tidak kalah nyolotnya (hehe… ini namanya alien vs predator): “Daripada pelacur, mendingan kampung hehe.. kasian amat si lu, masih aja takut ama gw..”
(as I always said: perang adalah ekspresi termudah dari kecemasan)
Sinting memang, saya benar-benar kasar banget menyebut dia begitu. Biarlah! Saya terlalu senang untuk merasa bersalah. Gimana ngga senang, wong saya lagi ada di hillside sepang circuit kok. Wong baru diumumin kalau Massa mencetak waktu tercepat kok. Mana bisa saya bete?
Hmm, but it could be something to discuss, anyway. Kampung? Iya juga sih, soalnya di kampung saya di ciputat tidak ada circuit macam ini (yang ada hillsidenya seperti ini, yang saking deketnya dari lintasan, bisa ngelempar botol aqua ke jalan buat cari-cari perhatian Kimi), dan seumur-umur memang ini pertama kalinya saya nonton F1 live, jadi budek mendadak, dan tentu saja, jadi kampungan mendadak. Lari ke sana kemari untuk memastikan sebisa mungkin ke mana mobil merah itu pergi, berharap-harap cemas mereka berdua akan senantiasa kenceng dan aman. Bersorak-sorak ketika Massa menyalip Hamilton di depan mata, Yippie! High five bersama orang-orang yang berbaju merah-merah, membawa bendera gambar kuda, kami semua jadi orang kampungan. Ada yang dari kampung Barcelona, kampung Bukit Timah di Singapore, kampung Penang, kampung … . Kampung global, mbak; pernah denger? Global village, kan embak anak pinter pasti embak tahu lah.
Eh, rupanya sms saya dibalas lagi (iyalah Sa, jangan sok kaget deh. Setelah menyebut dia dengan “P” gitu, masa berharap dia adem ayem aja sih), “Gausah saling menghina pake telpon gw, gw dah cape, kontak ke hp dia, 0856789xxxx, gw lg istirahat, jangan ganggu.”
wah kali ini mantan saya beneran yang bales, bukan si tukang cek telponnya.
Duh… lagi-lagi ga boleh kelihatan senyum-senyum aneh nih… jadi ya saya balas aja: “Gw mah mau pamer ama lu d&%, kaga ada urusan ama dia. MAN, THIS IS SO COOL!! GO KIMI!!”
Sudah lama banget rasanya; bukan saja kehilangan Kimi, Nico Rosberg, Heiki, dan kawan-kawan. Tetapi kehilangan spirit untuk nonton F1. Dulu, di 2006, saya naik sepeda dari Kolej Ibu Zain ke Hentian Kajang, sengaja pakai baju Mercedez(dulu Kimi masih McLaren) untuk nonton bareng Aan, si gila F1. Dan biasanya sms-smsan atau telpon-telponan sama sahabat saya itu untuk saling komentar tentang jagoan masing-masing (dia selalu sok ga mau kompak sama saya, menganggap Alonso lebih hebat. Who cares, Kimi lebih ganteng!). Dan di 2007, sucks! Saya kehilangan semangat itu. Kehilangan gairah minggu siang. Such a waste of year, it was. Makanya tahun ini, sebagaimana resolusi saya di tahun baru, no more penyakit-penyakit 2007 yang boleh merusak system saya lagi!!
So, si “anak kampung penggemar Iwan Fals yang pink ceria sok asik” ini kembali bergairah dengan F1-nya…. Silakan bete, silakan ngamuk. Tapi saya sih teteuuup… GO KIMI!!
yes……….go…go…Kimmi tapi akhir-akhir ini Kimmi kok sering berada diurutan belakang ya….,tapi go…go…Kimmi deh….suka F1 ya..???????wah ada temannya nih…..jagoannya sama juga….senengnya….