Dari Hillside (Gate C2) Sepang Circuit siang itu di bulan Maret, saya mencoba untuk telpon mantan suami saya (blame me, tapi kami memang masih suka ngobrol2 sebenernya, secara rahasia karena dia ga mau ketauan sama pacar d/h simpenannya) dan ceritanya mau pamer suara gemuruh mesin-mesin si ceper-ceper yang super kenceng dan super keren itu. Saya mau pamer kegembiraan saya bisa berada di sana, mengalungi 40D (tiba-tiba jadi mini banget dibandingin lensa-lensa ‘gayung’ yang betebaran di sana :P ) dan berada di antara penggemar Formula 1.

Mantan saya ini memang dulunya partner nonton F1 lewat kaca tivi. “Sa, Kimi mesinnya jebol!” atau “Sa, Alonso keluar!” begitu yang biasanya dia teriakkan dari ruang tivi rumah saya ketika perhatian saya seringkali teralih ke isi kulkas :P . Memang cerita itu sudah sangat lama sih, tapi kan kami sama-sama sempet kekeuh bahwa tidak ada istilah ‘mantan’ dalam persahabatan. Dan maknanya, kenangan-kenangan yang menyenangkan itu tidak akan pernah basi untuk saya.

Maka tadi siang juga demikian, dua orang yang saya coba telpon adalah dia dan kakak ipar saya, yang anaknya dikasih nama sama dengan nama kecil Kimi Raikonnen, Raka. Mereka adalah partner andalan saya kalau membahas F1 (Aan, kamu di mana?!). Dan dua-duanya tidak menjawab telpon saya (apes! Emang ga boleh pamer kali ya hehe). Akhirnya kedua-duanya saya sms aja (pantang menyerah! Hehe). Sms saya untuk mantan saya itu adalah begini:

“Payah ah… gw mau pamer suara gemuruh sepang circuit padahal…penting tuh! :P

Mantan saya ini memang pernah berpesan bahwa jangan telpon kalau ngga penting-penting amat. Makanya saya tegasin di sms saya, ‘pameran’ saya ini sangat penting. Excitement yang saya rasakan ketika mendengar suara raungan mesin, dan ledakan bak kembang api ketika mobil-mobil tersebut berbelok, luar biasa! Saya rasa akan sangat menarik berbagi perasaan ini kepada orang yang saya tahu betul juga penggemar F1 (ngga tau ya kalo sekarang ngakunya ga suka lagi. Tapi kalau dia bilang demikian pun mungkin akan saya acuhkan seperti ketika dia mengaku demikian tentang jazz. Tidak mungkin!).

Ketika menunggu race berikutnya dan saya duduk di atas rumput di hillside sepang circuit (ya, saya mengulang-ulang lokasi ini… tandanya saya benar-benar excited!), rupanya sms saya sudah terbalas, begini bunyinya: “Kampung lo. D&$#n (“si yang tidak boleh disebut namanya) lg tidur, “

Ha? … hahaha… mulai lagi nih… hahaha… begitulah reaksi saya. Sayangnya saya tengah bersama orang-orang yang baru kenal saya siang itu (yang cuma tahu saya penggemar Kimi dan saya mahasiswa dari Indonesia), di hillside Sepang circuit. Jadi kalau saya ketawa-ketawa baca sms, pasti teman-teman satu tim saya itu (haha) pada bingung. Akhirnya ya saya balas saja sms itu dengan tidak kalah nyolotnya (hehe… ini namanya alien vs predator): “Daripada pelacur, mendingan kampung hehe.. kasian amat si lu, masih aja takut ama gw..”

(as I always said: perang adalah ekspresi termudah dari kecemasan)

Sinting memang, saya benar-benar kasar banget menyebut dia begitu. Biarlah! Saya terlalu senang untuk merasa bersalah. Gimana ngga senang, wong saya lagi ada di hillside sepang circuit kok. Wong baru diumumin kalau Massa mencetak waktu tercepat kok. Mana bisa saya bete?

Hmm, but it could be something to discuss, anyway. Kampung? Iya juga sih, soalnya di kampung saya di ciputat tidak ada circuit macam ini (yang ada hillsidenya seperti ini, yang saking deketnya dari lintasan, bisa ngelempar botol aqua ke jalan buat cari-cari perhatian Kimi), dan seumur-umur memang ini pertama kalinya saya nonton F1 live, jadi budek mendadak, dan tentu saja, jadi kampungan mendadak. Lari ke sana kemari untuk memastikan sebisa mungkin ke mana mobil merah itu pergi, berharap-harap cemas mereka berdua akan senantiasa kenceng dan aman. Bersorak-sorak ketika Massa menyalip Hamilton di depan mata, Yippie! High five bersama orang-orang yang berbaju merah-merah, membawa bendera gambar kuda, kami semua jadi orang kampungan. Ada yang dari kampung Barcelona, kampung Bukit Timah di Singapore, kampung Penang, kampung … . Kampung global, mbak; pernah denger? Global village, kan embak anak pinter pasti embak tahu lah.

Eh, rupanya sms saya dibalas lagi (iyalah Sa, jangan sok kaget deh. Setelah menyebut dia dengan “P” gitu, masa berharap dia adem ayem aja sih), “Gausah saling menghina pake telpon gw, gw dah cape, kontak ke hp dia, 0856789xxxx, gw lg istirahat, jangan ganggu.”

wah kali ini mantan saya beneran yang bales, bukan si tukang cek telponnya.

Duh… lagi-lagi ga boleh kelihatan senyum-senyum aneh nih… jadi ya saya balas aja: “Gw mah mau pamer ama lu d&%, kaga ada urusan ama dia. MAN, THIS IS SO COOL!! GO KIMI!!”

Sudah lama banget rasanya; bukan saja kehilangan Kimi, Nico Rosberg, Heiki, dan kawan-kawan. Tetapi kehilangan spirit untuk nonton F1. Dulu, di 2006, saya naik sepeda dari Kolej Ibu Zain ke Hentian Kajang, sengaja pakai baju Mercedez(dulu Kimi masih McLaren) untuk nonton bareng Aan, si gila F1. Dan biasanya sms-smsan atau telpon-telponan sama sahabat saya itu untuk saling komentar tentang jagoan masing-masing (dia selalu sok ga mau kompak sama saya, menganggap Alonso lebih hebat. Who cares, Kimi lebih ganteng!). Dan di 2007, sucks! Saya kehilangan semangat itu. Kehilangan gairah minggu siang. Such a waste of year, it was. Makanya tahun ini, sebagaimana resolusi saya di tahun baru, no more penyakit-penyakit 2007 yang boleh merusak system saya lagi!!

So, si “anak kampung penggemar Iwan Fals yang pink ceria sok asik” ini kembali bergairah dengan F1-nya…. Silakan bete, silakan ngamuk. Tapi saya sih teteuuup… GO KIMI!!

nanggepin si shallow

June 20, 2008

suatu hari di telpon si perempuan simpanan yang ‘di atas angin’ itu protes begini sama saya: “gatau malu banget sih lo, masih sok-sok’an denger jazz, masih berbangga-bangga sepedahan. itu semua lo dapet dari mantanlo kan? pede banget sih lo. gw tau kok lo sebelum ketemu dia juga dengernya iwan fals dan musik2 pinggir jalan doang! jangan sok high class deh…!”

Memang saya tidak pernah lupa dari mana saya belajar tentang jazz. Seperti tidak pernah lupa dari mana saya belajar memotret untuk pertama kalinya. Seperti pula tidak akan saya lupa siapa yang mengajarkan saya melempar, menangkap, memukul bola sampai saya mencintai softball. Bahkan tidak pernah lupa dari ingatan saya siapa saja orang yang begitu berjasa dalam prestasi yang pernah saya raih, Alhamdulillah. Itulah ilmu, yang tidak akan habis ketika kita membaginya. Tidak akan miskin apabila kita mensedekahkannya.

Papa yang mengajarkan saya memotret pertama kali menggunakan kamera SLR. Hunting pertama kami saat itu adalah Sudirman – Thamrin – Monas di waktu malam. Walau kini papa telah tiada, saya yakin ia tidak ingin saya berhenti belajar memotret hanya karena ia tidak lagi bersama saya. Ia pasti ingin ilmu yang diberikannya ke saya bermanfaat untuk saya dan juga sekitar saya. Betul-betul saya yakin bahwa sebagai orang yang berilmu pengetahuan, maka apabila ilmunya dapat ia bagi kepada saya, dan kemudian berguna bagi saya, pastilah papa bangga dan bersyukur.

Demikian pula dengan jazz. Terima kasih karena telah memperkenalkan musik yang sangat menarik bagi saya ini. Saya ingat betul pelajaran demi pelajaran, mulai dari mendengarkan Take Five (komposisi pertama yang bisa diterima kuping saya) sampai luruh mendengar Alabama dari John Coltrane. Mulai dari kerennya Spain sampai romantisme kami dengan Koln Concert. Mulai dari membedakan suara alto sax dengan tenor sax sampai mempelajari perbedaan gaya Monk dengan Bill Evans dalam “Round Midnight” mereka masing-masing. Semua diskusi tentang LMO (Liberation Music Orchestra) yang anti pemerintah amerika sampai “Olatunji”. Ilmu, mana bisa ia berhenti di tempat? Ilmu pengetahuan tidak bisa berhenti di tempat. Seperti Henry Ford pernah berkata bahwa seorang guru tidak pernah tahu sampai mana ilmu pengetahuan yang diajarkannya berujung. Begitu juga kamu yang telah memperkenalkan saya kepada jazz, saya yakin kamu tidak menginginkan saya berhenti mendengarkannya. Apa pula alasannya kalau ternyata kamu ingin demikian? Kamu telah menjadi guru dan ilmu yang telah kamu bagi kepada saya, mengapa kamu ingin tarik kembali? Dan apa kamu pikir bisa untuk ditarik kembali?

Saya juga ingat bagaimana saya pelan-pelan belajar untuk menjadi pengendara sepeda. Bukan saya tidak bisa bersepeda, tapi sebelumnya memang tidak kepikiran untuk bersepeda dengan rute: rumah (ciputat) – pintu1 senayan (dilanjutkan dengan latihan) – rumah (kalau tidak dijemput si Uno) atau rute pagi: rumah – sektor 9 bintaro – rumah. Selain bikin badan sedikit meramping, sepeda memberi daya tarik yang sangat mudah untuk saya cintai. Pertama, nyelap-nyelip di antara kemacetan mobil dan kalau sabtu siang bisa lebih cepat naik sepeda daripada naik bis kalau ke senayan. Kedua, karena bisa keserempet angkot atau nabrak gerobak (hehehe…pengalaman pribadi tuh), dan ketiga karena punya alasan kuat untuk hujan-hujanan =P dan akhirnya bisa ngeceng-ngeceng sambil digodain tukang ojek hehehe
Tanjakan, turunan, jalan berlubang, kotor-kotoran, nyuci sepeda, ngelap sepeda sambil nyanyi-nyayi… asli saya tidak bisa berpura-pura bahwa saat ini saya tidak rindu bersepeda.
Dan itu semua memang diperkenalkannya kepada saya, seakan ia memang mempersiapkan saya untuk menjadi pengendara solo yang harus bisa ganti ban atau bongkar pasang spare part sendiri. Dan ketika saya bisa, sebagai guru pastilah ia bangga. Maka, mana mungkin kalau saya berhenti mengenjot sepeda maka ia akan senang? Atau berharap agar saya tidak bersepeda lagi?! Tak ada guru yang demikian mentalitasnya, saya yakin.

Saya menyebutnya sebagai “the wisdom of knowledge”. Di mana ilmulah harta yang tidak akan habis dan tidak akan berhenti efeknya (dan tidak dapat dikembalikan pula) walaupun segala tali telah terputus.
Saya yang menerima, pasti merasa sangat rugi apabila ilmu yang telah saya pelajari dan membawa dampak positif pada diri saya, harus saya hentikan. Sementara si suhu itu, pastilah bahagia dan bangga apabila mengetahui ilmunya dapat memberikan perubahan yang positif bagi orang yang dibaginya.

Maka, apabila kamu mempunyai ilmu, dan ilmu itu adalah ilmu berharga yang dapat kamu bagi, mana bisa kamu mengatakan: “Hei nisa, gatau diri amat sih, kenapa masih dengar jazz juga? Kenapa masih sepedahan juga? … Mengapa masih motret juga?”

***
maka saya menjawab ocehannya di telpon itu dengan tawa dan… “jiwa gw di mana-mana, di jalanan yang lo lewatin, lo akan liat gw terus. lo denger iwan fals, lo inget gw. lo liat sepeda, lo juga akan inget gw…”

teman-teman,

akhirnya kami bercerai secara resmi pada 14 Februari 2008.

selepas maghrib mantan suami saya menelpon. karena saat itu kami tidak berada di kota yang sama, maka saya tidak hadir persidangan sama sekali (ada 3 kali persidangan, menurut surat panggilan pengadilan yang sampai ke rumah saya).

dan 15 februari 2008 saya ‘curhat’ dan… baca aja deh =P

14 february was yesterday.

i walked from faculty to my dorm – was yesterday afternoon.

i chanted the requiem – was yesterday morning.

i asked God to stop the time, or reverse it instead of moving it forward

- was yesterday evening.

i said i was so sorry for every single little thing that i made wrong

- was yesterday evening.

i took twice as much cough syrup than i should so that i could sleep

- was yesterday midnight.

i didn’t resist my tongue saying how much i missed the voice, the laugh, the jokes, the conversation, everything – was yesterday evening.

i said thankyou with all my heart and soul – was yesterday morning afternoon evening and night.

i asked God to take good care of me – was yesterday before i closed my eyes.

now, you may go …

so long my beloved best friend

and He really does taking good care of me, terima kasih doanya teman-teman =)