satu malam di jembatan gang
December 10, 2007
setelah tidak bertemu selama hampir 4 bulan, akhirnya semalam mantan suami saya mengajak bertemu. mendadak dan tanpa perlu sok menolak (yang ini adalah kebiasaan perempuan yang tidak pernah saya ikuti, kalau mau ya mau kalau nolak ya nolak), saya iya-kan pertemuan itu.
sahabat saya yang kebetulan lagi chat sempet bilang: “dandan yang cantik, gih!” dan saya lagi-lagi tertawa menanggapinya. saya? cantik? ngga bisa diapa-apain lagi lah kalau soal penampilan =)
akhirnya sayapergi dengan kaos hitam dengan foto keluarga simpsons di bagian depannya dan celana pendek lusuh kotak-kotak andalan. dia selalu mengenal saya, apa adanya, dan pertemuan kali ini adalah suatu acara natural saja, tidak perlu dimeriahkan dengan kostum spesial apapun.
saya yang telah terbiasa waspada setiap bertemu atau berbicara di telpon dengannya berkali-kali berkata: “ayo, sampaikan aja amarah atau protes kamu. aku siap kok ditembak lagi…” dengan nada datar. tetapi ia selalu menjawab dengan kalimat serupa: “ngga kok, aku cuma pengen ketemu, kita udah lama ga ketemu. dan aku pengen tau aja kamu gimana sekarang… ternyata makin lucu.”
kemudian ia mencoba untuk tidak membicarakan administrasi perceraian kami… tetapi saya tidak mau terbawa arusnya. saya tetap sampaikan bahwa walaupun secara agama kami telah bercerai, tetap secara hukum negara kami belum resmi dan bertanya lagi dan lagi kenapa ia tidak pernah bersungguh-sungguh menyelesaikannya. “Alasan sibuk kamu sudah tidak bisa ditolerir lagi,” begitu kata saya pelan tanpa melibatkan emosi yang tengah membara di hati saya.
dan kamipun meninggalkan Pizza Hut tempat kami bertemu. selanjutnya adalah keliling-keliling kawasan ‘neighborhood’ saya dengan naik motor. sampai akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di suatu tepi jalan kecil (gang), duduk di bawah lampu jalan yang semakin rapuh dengan sinar yang hampir tidak berbekas di tanah. saya menyilakan kaki di jembatan itu, berhadapan dengannya yang terlalu mudah melepaskan airmata dari pelupuk matanya yang lelah. ia nampak lelah, tapi saya tidak bisa lagi mengasihaninya. saya selalu mengajarkan fikiran dan hati saya dengan doktrin: “dia sudah bahagia, mendapatkan perempuan yang dicintainya…”. saya memang tidak pernah benar-benar tahu apakah dia bahagia, saya buta tentang kesibukan dan aktivitas hariannya. tetapi saya putuskan untuk benar-benar tidak mau tahu.
ia menangisi saya. perempuan yang ditinggalkannya, dibuangnya dan digantikan tempatnya dengan perempuan lain yang lebih berpotensi untuk menjadi jauh mendekati sempurna. “kenapa harus kamu yang aku sia-siakan?” rintihnya. dan saya menjawab: “lalu, apa kamu pikir ada orang lain yang layak berada di tempatku? tidak satupun orang pantas untuk dibuang,…” ujar saya pelan tanpa ragu menatap matanya yang menghindari saya.
malam itu, semalam, kami berbincang-bincang dengan begitu damainya. sesekali saya melontarkan lelucon-lelucon ‘garing’ yang membuat kami tertawa, saya merasa masih begitu mengenalnya walaupun begitu banyak langkah dan keputusannya yang tidak bisa saya pahami. tetapi saya tetap tidak mengeluarkan air mata, saya tidak marah ketika mengatakan betapa sakitnya hati saya. saya tidak berteriak atau membentak ketika saya menyampaikan betapa tidak pernah sekalipun dalam hidup saya ada orang yang membuang dan menghina saya. dan saya pun tidak merasa bangga ketika dengan bersimbuh airmata ia mengatakan: “kamu hebat sekali, berjuang sampai akhir untuk mempertahankan pernikahan kita…”
tidak ada satu emosi yang menguasai saya malam itu, di jembatan di suatu gang. tidak ada airmata yang tak tertahankan, tidak ada marah yang tak teredamkan, dan tidak ada sedih yang tak terabaikan. saya hanya bisa mengatakan: “jangan menangis, setidaknya jangan menangis di hadapanku,… karena aku tidak mau menyesal membiarkanmu pergi…”
barulah ketika kami berpisah, saya kembali ke rumah dan tundukkan kepala saya dengan kening yang selevel dengan kaki, saya menitikkan airmata di atas sajadah biru. dalam shalat isya saya semalam, saya haturkan rasa terima kasih saya yang begitu besar kepada Gusti Allah, yang begitu bersungguh-sungguh menjaga saya, merawat luka saya, dan memelihara saya sehingga satu malam itu, semalam, di jembatan di suatu gang, saya bisa tenang dan ramah menghadapinya.