kalah
November 6, 2007
sudah pernah saya ceritakan tentang perempuan itu? dan perempuan-perempuan yang bersamanya sebelum saya?
pagi ini saya melihat persamaan di antara mereka yang begitu nyata, banyak, dan… mulai dari mana? dari ujung rambut ke ujung kaki?
ya, secara fisik mereka berdua sama-sama mempunyai tubuh yang proporsional, rambut yang tergerai panjang, pakaian yang modis-modis dan sexy, pesta-pesta yang heboh… mereka adalah cerminan perempuan.. maksudnya, wanita-wanita masa kini yang westernized a.k.a modern, cantik-cantik, seru, heboh, dan menarik perhatian banyak laki-laki. di foto-foto mereka, berbagai gaya mereka beraksi, dan sangat percaya diri seakan mereka sadar betul betapa menariknya penampilan fisik mereka.
dan… salah besar kalau menganggap mereka tidak berotak. keliru, mereka adalah orang-orang cerdas yang berprestasi di bidang akademik.
ya, tipe orang yang membuat saya berfikir “kepada sebagian orang, Tuhan memberikan segalanya” .. =Psaya yang tidak pernah peduli pada bentuk tubuh dan rambut saya, dan hampir tidak pernah benar-benar merasa cantik ataupun tidak cantik… tiba-tiba merasa menemukan salah satu jawaban yang tepat dan rasional yang mendukung penuh semua kehancuran rumah tangga kami.
kemudian saya juga membuka-buka file foto2 saya, yang … haha, jauh banget sama mereka.
saya yang sebelumnya merasa nyaman dan tidak ada masalah dengan tubuh dan isi kepala saya, tiba-tiba merasa benci melihat pantulan wajah dan tubuh saya di cermin.
setelah merasa sedih karena terlalu jauh dan sangat sangat jauh dari mereka (dan tidak mau seperti mereka juga), saya beralih kepada amarah kepada mantan suami.
“kalau sudah tau seleranya seperti itu, kenapa pacaran sama saya tiga tahun dan menikahi saya sih?!”
itu bukan pertanyaan kok, jadi tidak usah kamu jawab ya, nyet
mantan suami saya adalah seseorang yang sangat memperhatikan desain.
barang-barangnya selalu kelas satu. handphonenya adalah Nokia Siroco yang casingnya dari titanium dan fungsinya tidak terlalu baik dibandingkan harganya yang – buat saya – berlebihan.
tapi dia bilang itu sebagai bentuk penghargaan terharap disain.
harga sepedanya bisa mencapai puluhan juta. dengan segala kerja keras dan pengorbanan, dia membangun sepedanya sangat bagus dan mewah sekali.
tidak jarang barang-barangnya dia gadai dan jual demi membangun sepeda ‘raja’nya.
dahulu saya hanya kagum pada kegigihannya. suami saya bukan orang berlimpah harta, saya tahu persis keteguhan dan kesabaran dia memperoleh barang-barang mewah itu.
tetapi saya harusnya sadar, apa yang dia mau adalah selalu bentuk, desain, dan produk-produk numero uno. dan sebagai manusia, saya jelas-jelas tidak didisain cukup elegan seperti siroco untuk handphone atau mercedes untuk mobil.
saya terlalu pendek untuk ukuran manusia termasuk manusia asia, saya tidak suka rambut panjang2 apalagi kuku, karena dari kecil olahraga jadi tidak biasa memanjangkan kuku. saya gemuk, dan kulit saya tidak terlalu mulus. bahkan belang-belang terbakar matahari.
dan bodohnya, saya pikir dia mencintai saya sehingga saya luput dari kesadaran bahwa dia selalu mau disain yang terbaik.
saya ingat, dulu dia cerita bahwa VW antiknya dia jual, setelah mengalami tabrakan. sebenarnya VW itu sudah diperbaiki dan mulus, tapi dia bilang: “saya tau tidak 100% mulus kembali, hanya 99% dan saya tidak mau bertoleransi.”
Ouggghhh…kenapa saya berfikir saya pantas dengannya? kenapa saya tidak pernah berfikir bahwa begitu ada desain yang lebih baik, pasti saya disingkirkannya?!!
selain itu, saya bukanlah perempuan yang populer karena kecantikannya ataupun kesupelannya.
saya bukan social person yang selalu dielu-elukan kehadirannya di pesta-pesta. saya tidak suka pesta. saya bukan party animal yang bisa membuat suasana pesta lebih heboh. saya adalah orang yang rata-rata saja, dan tidak pernah mengeluh karenanya, sampai ketika saya sadar, bahwa mantan suami saya itu mengingatkan betapa banyak kekurangan diri saya dalam hal fisik. betapa saya mengalami kekalahan yang jauuh dan sangat memalukan.
ya, saya memang kalah. dan kalau ukurannya melulu fisik, saya memang tidak berminat untuk perang dan menang. percayalah, sekarang, saya hanya ingin mencintai dan nyaman dengan diri saya sendiri.
alterated the top priority of life
November 6, 2007
Sahabat saya Adri pernah berkata, “Sa, kalau kamu melakukan pengorbanan, jangan dihitung-hitung, sayang kan pahalanya…”
Memang benar, menghitung-hitung ibadah hanya akan menjadikan manusia sombong, bahkan pada dirinya sendiri. Tetapi kalau kali ini saya mengingat-ingat apa yang telah saya lakukan, itu bukannya untuk perhitungan ataupun menghumbar-humbar pengorbanan yang sudah saya lakukan untuk kasus yang ‘consumed’ ini; melainkan saya mendeklarasikan perubahan pada diri saya sendiri. Perubahan pada prioritas hidup saya, pada visi masa depan saya.
Bejo, seorang sahabat saya yang lain (Alhamdulillah betapa kayanya saya akan sahabat-sahabat yang selalu menyayangi saya) meneriakkan satu peringatan keras bahwa sudah saatnya saya menghentikan segala tindakan atas nama ‘pengorbanan’ demi urusan yang menurutnya akan menyebabkan saya mengalami depresi akut itu (baca: sidang perceraian). Seperti alarm, saya cukup dikejutkan dengan komentar cadasnya, yang seharusnya saya sudah hafal bahwa ia memang seperti itu kalau berkomentar, tanpa bungkus yang cantik, iringan musik merdu, ataupun gula-gula yang manis. Maka saya berdiskusi cukup panjang dengan Bejo tentang pengorbanan dan prioritas hidup. Setelah saya resapi kembali hantaman-hantamanya yang bikin saya merasa lebih ‘unbreakable’ itu, akhirnya siang tadi saya beranikan diri untuk menunjukkan perubahan tentang skala prioritas hidup saya pada satu orang yang tidak boleh disebut namanya (dan tidak boleh di sms itu hehehe).
“Silence only confirmed that history repeated itself,” begitu yang pernah saya baca di satu buku. Saya sudah membuang satu semester saya, sudah meletakkan jabatan saya sebagai felo dan kembali berada di Jakarta, sudah pernah menepikan keluarga dan kawan-kawan saya yang akhirnya harta tersebut pelan-pelan saya miliki kembali, dan… kali ini saya harus melepaskan kesempatan saya yang belum tentu bisa datang lagi semudah ini?
Timing is everything! Dan kalau saya biarkan kesempatan ini berlalu sia-sia, akankah saya menyesal karena meninggalkannya hanya untuk perkara yang membuat saya muak setengah mati? Sudah saatnya saya menempatkan kebaikan untuk diri saya sendiri sebagai prioritas nomor satu. Saya mendapat kesempatan untuk presetasi di sebuah konfrensi pendidikan internasional yang diselenggarakan oleh UKM, kampus saya. Dan saya sangat membutuhkan konfrensi ini untuk membuat diri saya kembali ‘feeling good about myself’, suatu perasaan yang sudah lama absen. Dan sudah saatnya pula ia tahu bahwa kini saya telah berubah menjadi sangat ‘keakuan’, suatu sikap yang susah untuk saya lakukan di satu tahun terakhir ini. Akhirnya untuk tidak melakukan kebodohan yang sama, saya beranikan diri untuk bersuara dan memintanya memberikan saya sedikit waktu dan ruang untuk mengikuti konfrensi tersebut.
Dan semoga memang seikhlas kedengarannya, ia akhirnya tidak keberatan perkara heboh itu ditunda untuk beberapa minggu. Saya telah bersuara, menyatakan keinginan dan kepentingan saya, agar tidak ada kesalahan yang terulang lagi, yang melahirkan penyesalan bagi diri saya sendiri.
Bejo betul, demi membangun diri saya seutuhnya, sebaiknya saya tidak menginjakkan kaki di Jakarta sebelum konfrensi tersebut. Sebab kegiatan yang akan saya lakukan di Jakarta akan membuat saya mengalami degradasi ‘self-esteem’. Iyalah, terlalu mudah untuk diduga bahwa siding perceraian tentu akan bikin saya sangat … entah bagaimana, sehingga saya juga ngga ngerti musti bagaimana persiapkan mental ini. Ada yang bisa bantu??
Dan kondisi emosi yang misterius itu akan mempengaruhi kinerja otak saya, pastinya. Maka berada di sini selama satu bulan lagi, saya ingin mendalami paper saya tentang pendidikan alternatif untuk remaja miskin, sekaligus siapkan bahan presentasinya, contoh modul problem-based learning, sekalian mau fotokopi buku-buku perpustakaan buat koleksi saya (hihi, koleksi kok bajakan sih Cil…)
Terima kasih bejo atau suntikan ‘BANZAII!!’nya
Dan terima kasih juga kepada “yang tidak boleh disebut namanya dan di-sms” atas pengertian dan dukungan moralnya kepada kemajuan saya, yang saya yakin sebenarnya tidak surut.